Jurnal IGEL : Journal Of Dance https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel <p>Semua artikel dalam <strong>Jurnal IGEL : Journal Of Dance</strong> diproses oleh editor melalui Open Journal Systems (OJS) pada <a href="https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/index" target="_blank" rel="noopener">https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/igel </a>dan penulis dapat memantau seluruh proses di area anggota. Artikel-artikel yang diterbitkan dalam <strong>Jurnal IGEL : Journal Of Dance</strong> tersedia sebagai akses terbuka untuk tujuan pendidikan, penelitian, kepustakaan, dan pengembangan masyarakat. Dewan editor <strong>Jurnal IGEL : Journal Of Dance</strong> tidak bertanggung jawab atas berbagai tindakan pelanggaran hak cipta ataupun pelanggaran lainnya yang dapat merugikan kredibilitas <strong>Jurnal IGEL : Journal Of Dance</strong> ataupun masyarakat secara luas.</p> <p>Frekuensi Terbitan : 2 terbitan per tahun <strong><br /></strong>Online ISSN (E-ISSN) : <a title="2808-3245" href="https://drive.google.com/file/d/1vcVd3GHOtdHi5mzKFLsXirYDnSfiXuj9/view?usp=sharing" target="_blank" rel="noopener">2808-3245</a><br />Cetak ISSN (P-ISSN) : -<br />Penerbit : <strong>UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar</strong><br />Pengelola : <strong>Program Studi Tari</strong><br /> <strong>Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar</strong><br />Indeks Jurnal : <a title="Google_shcolar" href="https://scholar.google.com/citations?hl=en&amp;user=https://drive.google.com/file/d/1vcVd3GHOtdHi5mzKFLsXirYDnSfiXuj9/view?usp=sharing&amp;sortby=title&amp;view_op=&amp;user=JG7VQOwAAAAJ">Google_shcolar</a></p> id-ID <p>Volume 2 Nomor 1, Juni 2022</p> dayutrisna@gmail.com (Dr . Ida Ayu Trisnawati, SST. , M.Si) guzt.bang@gmail.com (I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra) Wed, 15 Jun 2022 07:39:22 +0000 OJS 3.2.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 JAYA ANGGADA https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1572 <p>Sumber kreatif karya tari Jaya Anggada bersumber dari tokoh Anggada yang&nbsp;merupakan tokoh sangat tangkas dan gesit sebagai bela wenara dari cerita Ramayana.&nbsp;Jaya&nbsp;Anggada&nbsp;dimana&nbsp;dalam&nbsp;peperangan&nbsp;besar&nbsp;Alengka,&nbsp;Anggada&nbsp;menunjukan&nbsp;kepahlawanan di medan perang serta berhadapan&nbsp;langsung dengan putra mahkota&nbsp;alengka, Indrajit yang merupakan putra dari dewi tari, yang juga merupakan saudara&nbsp;sepupunya. Atas jasanya Anggada pun mendapat tambahan nama “Jaya” yang berarti&nbsp;unggul.&nbsp;Maka&nbsp;dari&nbsp;itu lazim&nbsp;disebut&nbsp;dengan Jaya&nbsp;Anggada.</p> <p>Tari Jaya Anggada tercipta melalui proses penciptaan dengan menggunakan&nbsp;metode&nbsp;penciptaan&nbsp;Alma.&nbsp;M.&nbsp;Hawkins&nbsp;yang&nbsp;terdiri&nbsp;dari&nbsp;tahap&nbsp;penjajagan&nbsp;(<em>exsploration</em>),&nbsp;improvisasi&nbsp;(<em>improvitation</em>),&nbsp;dan&nbsp;tahap&nbsp;pembentukan&nbsp;(<em>forming</em>).&nbsp;Penggarapan tari Jaya Anggada diwujudkan ke dalam bentuk struktur yaitu <em>pengawit,</em><em>&nbsp;</em><em>batel,</em><em>&nbsp;</em><em>papeson,</em><em>&nbsp;</em><em>pengawak,</em><em>&nbsp;</em><em>pengecet</em>.&nbsp;Pesan&nbsp;yang&nbsp;disampaikan&nbsp;dari&nbsp;karya&nbsp;Jaya&nbsp;Anggada&nbsp;ini&nbsp;adalah&nbsp;agar&nbsp;generasi&nbsp;muda&nbsp;dapat&nbsp;melestarikan&nbsp;kesenian&nbsp;di&nbsp;Bali&nbsp;khususnya,&nbsp;sehingga&nbsp;kesenian yang telah diwariskan oleh leluhur terdahulu dapat dilestarikan dan dijaga&nbsp;dengan&nbsp;baik.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata</strong><strong>&nbsp;</strong><strong>Kunci</strong><strong>&nbsp;</strong>:&nbsp;<em>Anggada,</em><em>&nbsp;</em><em>Jaya</em><em>&nbsp;</em><em>Anggada,</em><em>&nbsp;</em><em>Kreasi.</em></p> <p>&nbsp;</p> Anak Agung Gede Angga Mahputra, I Ketut Sariada, I Gede Oka Surya Negara Hak Cipta (c) 2022 Anak Agung Gede Angga Mahputra, I Ketut Sariada, I Gede Oka Surya Negara https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1572 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Tari Bhairawapaksa, Interpretasi Sosok Mpu Barang https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1575 <p><em>Bhairawa </em>adalah <em>paksa </em>(kelompok) yang menyembah Durga sebagai dewi tertinggi&nbsp;dalam prakteknya.&nbsp;<em>Bhairawa</em><em>&nbsp;</em>merupakan&nbsp;salah&nbsp;satu&nbsp;<em>sekte</em><em>&nbsp;</em>yang&nbsp;berpengaruh&nbsp;bagi&nbsp;masyarakat&nbsp;Bali&nbsp;baik&nbsp;dari segi praktek spritual dan sejarahnya. Salah satu cerita yang menyangkut ajaran <em>bhairawa </em>dan terkenal hingga masa kini yaitu kisah dari Mpu Barang. Dalam buku <em>Kajian Naskah Lontar Siwagama, </em>Mpu Barang digambarkan seorang pendeta sakti beraliran <em>budha </em>yang dapat <em>menyupat </em>arwah-arwah gentayangan dengan cara memakan badan kasarnya hingga habis, kesaktian yang dimiliki Mpu Barang tersebut adalah <em>Bhairawapaksa</em>. Kesaktian Mpu Barang membuat penata tertarik untuk menciptakan karya tari kontemporer yang bernuansakan horor dengan menggunakan teori Imajinasi agar dapat bebas menginterpretasikan kanibalisme dari tokoh Mpu Barang. Dalam proses&nbsp;perwujudan&nbsp;karya&nbsp;tari&nbsp;ini&nbsp;menggunakan&nbsp;metode&nbsp;penciptaan&nbsp;yang&nbsp;dikemukakan&nbsp;oleh&nbsp;Alma</p> <ol> <li class="show">Hawkins, yang terdiri dari 3 tahapan , yaitu eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya tari ini penata beri judul Bhairawapaksa Bhairawapaksa adalah karya tari kontemporer yang ditarikan oleh 7 penari inti sebagai representasi dari <em>Sapta Kanda Pat </em>dan <em>Sapta Angga </em>serta menggunakan5orang&nbsp;penari&nbsp;tambahan&nbsp;sebagai&nbsp;penguat&nbsp;suasana.&nbsp;Struktur&nbsp;karya&nbsp;tari&nbsp;Bhairawapaksa terdiri dari 4 bagian yang menggambarkan suasana magis, tenang, menjijikan, dan religius. Pesan yang ingin disampaikan dalam karya ini ialah jangan menilai sesuatu hal hanya dari luarnya saja namun lihatlah ke&nbsp;dalamnya.</li> </ol> <p>&nbsp;</p> <p>Kata Kunci: <em>Bhairawapaksa, Horor, Kanibal, Mpu Barang </em>dan <em>Kontemporer</em></p> Kadek Karunia Artha, I Ketut Sutapa, I Wayan Adi Gunarta Hak Cipta (c) 2022 Kadek Karunia Artha, I Ketut Sutapa, I Wayan Adi Gunarta https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1575 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Tari Kreasi Bebarisan Bala Maya, Sebuah Kisah Prajurit Kupu-kupu https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1577 <p>Membaca buku Kupu-Kupu Kuning Yang Terbang di Selat Lombok, mengisahkan tentang&nbsp;sejarah perjuangan Kerajaan Karangasem mengalahkan Kerajaan Seleparang, Lombok. Kemenangan Kerajaan Karangasem berkat pasukan kupu-kupu kuning yang bisa nampak maupun menghilang, <em>panugrahan </em>(pemberian) dari <em>Ida Bhatara Alit Sakti</em>&nbsp;di Pura Bukit Karangasem. Makna perjuangan tersebut sangat fenomena, bila dikaitkam dengan konsep <em>sekala</em>&nbsp;dan <em>niskala</em>, yaitu bakti leluhur dan hubungan manusia dengan alam semesta. Berorientasi dari fenomena tersebut,&nbsp;muncul ide untuk menciptakan sebuah karya tari yang berjudul <em>Bala Maya </em>dalam bentuk kreasi bebarisan.</p> <p>Dalam pencipaan karya tari ini,&nbsp;menggunakan teori <em>Imaji dan Imajinasi</em>&nbsp;oleh&nbsp;Tedjoworo, H, yaitu mampu membayangkan dan mengejewantahkan ke dalam motif gerak. Prosesnya menggunakan metode&nbsp;<em>Mencipta Lewat Tari</em>&nbsp;oleh Y. Sumadiyo Hadi terjemahan dari buku <em>Creating Through Dance </em><em>&nbsp;</em>oleh Alma M. Hawkins terdiri dari tiga tahapan yakni, tahap penjajagan (eksplorasi), tahap percobaan (improvisasi), dan tahap komposisi (pembentukan).</p> <p><em>Bala Maya </em>adalah sebuah karya tari kreasi bebarisan bertemakan kepahlawanan, mengisahkan tentang pasukan Laskar Karangasem yang menginterpretasikan kupu-kupu kuning menyerang Kerajaan Seleparang, Lombok. Prajurit yang tidak terlihat secara nyata adalah karakter dan sifat dari kupu-kupu kuning yang disebut Bala Maya.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>&nbsp;: <em>Tari kreasi</em>&nbsp;<em>bebarisan, Bala Maya, Sekala-niskala, penciptaan.</em></p> I Wayan Wira Arimbawa, I Kt. Suteja, Ni Nyoman Manik Suryani Hak Cipta (c) 2022 I Wayan Wira Arimbawa, I Kt. Suteja, Ni Nyoman Manik Suryani https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1577 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Tari Dapul https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1599 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Karya Tari Dapul (Dangsil Punggel)<em>&nbsp;</em>merupakan sebuah karya tari yang ditarikan oleh enam orang penari putri dalam bentuk tari kreasi baru dengan tema persembahan yang diiringi oleh gamelan selonding. Tari Dapul menginterprestasikan tentang sarana upacara yang dipersembahkan sebelum digelarnya prosesi <em>Siat Sampian</em>&nbsp;yaitu <em>Banten Dangsil Punggel</em>. Garapan Tari Dapul berpijak pada tari rakyat yang dikembangkan dan dikreasikan sehingga menghasilkan gerak <em>inovatif</em>&nbsp;serta menciptakan gerak baru namun tidak terlepas dari <em>pakem </em>yang ada. Tari Dapul terinspirasi dari Tari Nyutri yang sederhana, mudah dipelajari, namun memiliki estetika yang membuat tarian tersebut menarik. &nbsp;Melalui karya tari ini pencipta ingin memperkenalkan <em>Banten Dangsil Punggel</em>&nbsp;kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa <em>banten</em>&nbsp;tersebut saling berkaitan dengan prosesi <em>Siat Sampian</em>, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tetap melestarikan tradisi yang sudah diwariskan khusnya tradisi <em>Siat Sampian</em>.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci :</strong>&nbsp;<em>Tari Kreasi, Banten Dangsil Punggel, Siat Sampian, Sampian Dangsil</em></p> Pande Ketut Ayu Windasari, Sulistyani, Ni Wayan Suartini Hak Cipta (c) 2022 Pande Ketut Ayu Windasari, Sulistyani, Ni Wayan Suartini https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1599 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Perpaduan Bali dan Jazz dalam Teknik Jazli, Tari Studi dalam Kontemporer https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1579 <p>Karya tari Jazli merupakan tari kontemporer yang idenya berangkat dari pengalaman pribadi pencipta. Pengalaman mendalami tari Jazz dan kecintaan pada tari Bali membuat pencipta ingin mengangkat akulturasi gerak sebagai tema karya. Melalui karya tari ini, pencipta ingin menyampaikan kebanggaan pencipta terhadap tari Bali yang sangat fleksibel, sehingga dapat dipadukan dengan tari Jazz&nbsp;yang berasal dari Barat. Karya ini bertujuan untuk menawarkan kebaharuan kreativitas berkesenian di Institut Seni Indonesia Denpasar, khususnya pada Program Studi Tari dalam menyelesaikan tugas akhir.</p> <p>Tipe tari studi dipilih untuk memadukan teknik tari Jazz dan teknik tari Bali, sehingga menemukan teknik gerak baru. Pencipta menggunakan metode&nbsp;Jacqueline Smith sebagai pijakan membangun karya tari Jazli. Metode ini dibagi menjadi empat tahapan, disebut metoda konstruksi I, II, III, dan IV. Selain perpaduan teknik gerak, dalam proses karyanya juga terjadi perpaduan musik dan tata busana untuk mewakili unsur Jazz dan Bali. Bentuk penyajian karya tari Jazli adalah kelompok berjumlah tujuh orang&nbsp;penari, tiga penari putra dan empat penari putri. &nbsp;</p> <p>Teknik gerak Jazli merupakan hasil penemuan dalam karya tari ini. Teknik gerak Jazli merupakan refleksi pencipta terhadap teknik tari yang pernah dipelajari. Harapan pencipta agar karya tari Jazli dapat dijadikan inspirasi bagi generasi muda, serta teknik gerak Jazli&nbsp;bisa&nbsp;berkembang di Bali.&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci :</strong>&nbsp;<em>Kontemporer, Pengalaman, Jazli, Akulturasi</em></p> Putu Parama Kesawa Ananda Putra, I Gusti Ngurah Sudibya, Ida Ayu Wayan Arya Satyani Hak Cipta (c) 2022 Putu Parama Kesawa Ananda Putra, I Gusti Ngurah Sudibya, Ida Ayu Wayan Arya Satyani https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1579 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Tari Telek Nyandar Ati Sebuah Inspirasi dari Tapel Ni Swarni https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1600 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Tari Telek merupakan tarian yang menggunakan tapel, berkarakter halus, indentik dengan menggunakan properti kipas. Tari Telek <em>Nyandar Ati </em>merupakan sebuah karya yang terlahir dari riset. Tari ini terinspirasi dari sebuah tapelyang ada di Desa Adat Intaran, wilayah Sanur Kauh yaitu TapelNi Swarni. Tari ini memiliki kekhasan sendiri mulai dari awal mula terciptanya, bentuk, dan fungsi Tari Telek <em>Nyandar Ati. </em></p> <p>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan esetetika dan sosio historis. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur, dan secara tidak langsung melalui studi kepustakaan, serta dokumentasi. Pada kesempatan ini peneliti mengambil kebijakan MBKM program Riset atau Penelitian dengan objek penelitian Tari Telek <em>Nyandar Ati </em>Sebuah Inspirasi dari Tapel Ni Swarni.</p> <p>Tari Telek <em>Nyandar Ati </em>merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari tapel Ni Swarni. Tapel Ni Swarni merupakan hasil imajinasi Ida Pedande Made Sideman terhadap wanita yang sangat cantik dan yang sangat beliau cintai yaitu Ni Swarni yang merupakan istri beliau. Tari Telek <em>Nyandar Ati </em>merupakan tari kelompok yang ditarikan oleh enam orang penari yang terdiri dari tiga orang penari telek dan tiga orang penari laki-laki sebagai <em>pengabih.</em>&nbsp;Tari Telek <em>Nyandar Ati </em>adalah sebuah karya yang berawal dari sebuah riset, memiliki struktur pertunjukan sebagai berikut: <em>metaki-taki, pamahbah, pengawak, pengecet, </em>dan <em>ngewaliang pragina. </em>Tari ini awalnya difungsikan sebagai pertunjukan idealis, kemudian seiring dengan perjalanannya difungsikan sebagai tari pengiring saat <em>seuhunan </em>di Pura Dalem Pacekan Penestanan <em>napak pertiwi. </em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong>Kata Kunci</strong><em>: Ni Swarni, Nyandar Ati, telek</em></p> I Dewa Ayu Galuh Intan Rakasiwi, Gusti Ayu Ketut Suandewi, Kompyang Gede Widnyana Hak Cipta (c) 2022 I Dewa Ayu Galuh Intan Rakasiwi, Gusti Ayu Ketut Suandewi, Kompyang Gede Widnyana https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1600 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 ANALISA GERAK TARI DALAM FILM SEKALA NISKALA https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1576 <p><em>Sekala Niskala </em>menceritakan kisah tentang persaudaraan kembar antara Tantri dan Tantra, yang lahir dan tinggal di</p> <p>sebuah pedesaan di Bali. Mereka memiliki hubungan dengan hal-hal yang tak kasat mata dan bulan purnama. Tantri,</p> <p>adalah kembaran Tantra yang harus dirawat di rumah sakit akibat penyakit yang menggerogoti kemampuan otaknya.</p> <p>Penilitian ini dilakukan untuk menganalisa ragam gerak tari dalam Film Sekala Niskala. Dari fenomena diatasyang</p> <p>dijelaskan terdapat Permasalah yang ada didalam penulisan Ini antara lain : Bagaimana asal mula Terciptanya Gerak</p> <p>Tari Dalam Film Sekala Niskala ?Bagaimana Analisa Gerak Tari Dalam Film Sekala Niskala ? Metode peneitian</p> <p>yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif untuk memecahkan permasalahan penelitian ini. yang</p> <p>ditemukan di dalam observasi ke lapangan, wawancara, studi kepustakaan, dokumentasi. Landasan teori yang</p> <p>digunakan dalam penelitian ini yakni teori estetikadalam penelitian ini digunakan untuk mengkaji unsur-unsur, yaitu</p> <p>wujud, bobot, dan penampilan yang berhubungan dengan Analisa Gerak Tari dalam Film Sekala Niskala yang</p> <p>menganalisa gerak tari. Koreografer mencoba mencari inspirasi tarian yang dikaitkan dengan alam, lingkungan,</p> <p>binatang, tumbuhan, seni, budaya, dan mitos Bali. Yang di dalamnya seperti gerakan karakter ayam, karakter kupu-</p> <p>kupu, karakter monyet, karakter tonya. Dari keempat gerakan karakter tersebut terdapat beberapa unsur-unsur untuk</p> <p>menganalisa gerakan tersebut yaitu Bahan, Tenaga, Ruang dan Waktu.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong><em>: Analisa Gerak Tari, Sekala Niskala.</em></p> I Gusti Ngurah Krisna Yoga, Yulinis, I Wayan Budiarsa Hak Cipta (c) 2022 I Gusti Ngurah Krisna Yoga, Yulinis, I Wayan Budiarsa https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1576 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Tari Bayu Sutha Karya Anak Agung Anom Putra https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1602 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Judul penelitian ini adalah Tari Bayu Sutha Karya Anak Agung Anom Putra. Tujuan penelitian ini &nbsp;adalah untuk mengetahuiawal terciptanya, bentuk dan fungsi pada tari Bayu Sutha, untuk mengukur seberapa jauh kemampuan penulis dalam meneliti atau mengkaji suatu karya tari, serta memberikan informasi terkait awal terciptanya, bentuk dan fungsi pada tari Bayu Sutha. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif, untuk memperoleh data yang lengkap.&nbsp;Tahap-tahap pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi. Keseluruhan hasil data tersebut diolah dan dianalisis secara rapi dan terstruktur agar mendapatkan hasil yang baik serta kesimpulan yang sesuai dari penelitian.Tari Bayu Sutha ini merupakan tari kreasi yang ditarikan secara tunggal, diciptakan oleh Anak Agung Anom Putra. Tari ini diciptakan sebagai permintaan dari panitia International Gamelan Festival Amsterdam (IGFA) dalam acara 100 tahun anniversary Tropen Museum Amsterdam pada tanggal 9-11 September 2010. Tari Bayu Sutha ini menceritakan masa muda Hanoman yang lincah dan memiliki hati yang tulus. Hanoman merupakan tokoh protagonis dalam cerita Ramayana. Anak Agung Anom Putra juga terinspirasi dari nama nya “Anom”, maka dari itu diciptakanlah tarian yang menggambarkan karakter tokoh Hanoman. Pada umumnya tari Hanoman ditampilkan dalam sendratari Ramayana. Namun, berbeda dengan tari Bayu Sutha yang ditarikan secara tunggal. Musik iringan dalam tari Bayu Sutha menggunakan gong <em>semarandhana</em>.</p> <p><strong><em>Kata Kunci : </em></strong><em>bayu sutha, tari kreasi, ramayana.</em></p> Nayunda, Anak Agung Ayu Mayun Artati, I Wayan Sutirtha Hak Cipta (c) 2022 Nayunda, Anak Agung Ayu Mayun Artati, I Wayan Sutirtha https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1602 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 TARI AMERTA SRI BUMI: REPRESENTASI UPACARA PERANG TIPAT DALAM MERDEKA BELAJAR-KAMPUS MERDEKA BERSAMA SANGGAR SENI PANCER LANGIIT https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1603 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>Artikel ini adalah hasil penelitian dari Tari Amerta Sri Bumi: Representasi Upacara Perang Tipat sebagai tari kreasi baru yang disimbolkan sebagai Purusa dan Pradana serta penggambaran Dewi Sri sebagai Dewi kesuburan. Penelitian ini memfokuskan tentang proses kreatif dan bentuk sajian Tari Amerta Sri Bumi.Penelitian ini disusun berdasarkan teori postmodern, teori kreativitas dan teori elemen koreografi kelompok dengan mengunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik wawancara, teknik studi kepustakaan dan teknik dokumentasi. Hasil analisis data menunjukan, bahwa Tari Amerta Sri Bumi adalah tari kreasi baru yang terinsipirasi dari atraksi budaya yaitu <em>Aci Rah Pengangon </em>atau yang lebih dikenal dengan Perang Tipat dan Bantal yang berada di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dengan konsep menginterpretasikan tipat dan bantal yang mengangkat esensi dengan mempertemukan kedua unsur simbolik sumber kemakmuran yaitu <em>Purusa</em>&nbsp;dan <em>Pradana</em>&nbsp;yang melahirkan kesuburan.Metode yang dipergunakan dalam penciptaan Tari Amerta Sri Bumi adalah Metode <em>Langon</em>&nbsp;yang bersumber dari <em>Lontar Purwadigama</em>&nbsp;yang menyatakan bahwa terdapat tiga konsep seperti (1) konsep penggalian yang disebut dengan<em>&nbsp;ungon</em>, (2) konsep penguatan yang disebut dengan <em>ingon</em>, (3) konsep penguasaan yang disebut dengan<em>&nbsp;angon.</em>Tari Amerta Sri Bumi menggunakan tujuh orang penari yakni tiga orang perempuan disimbolkan sebagai <em>Pradana</em>, tiga orang laki-laki disimbolkan sebagai <em>Purusa</em>. Kemudian satu perempuan sebagai karakter Dewi Sri yang memakai gendongan yang megah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci: <em>Tari Amerta Sri Bumi, Proses Kreatif, Bentuk Pertunjukan</em>.</p> Ni Kadek Ary Apriyani, Ida Ayu Trisnawati, A.A Ketut Oka Adnyana Hak Cipta (c) 2022 Ni Kadek Ary Apriyani, Ida Ayu Trisnawati, A.A Ketut Oka Adnyana https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1603 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000 Pembelajaran Tari Legong Lasem Di Sanggar Tari Warini https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1611 <p>Tari Legong Lasem ditarikan oleh 3 orang &nbsp;penari perempuan diantaranya yaitu 1 penaricondong dan 2 penari legong. Tari Legong Lasemmenceritakankasihtaksampai Prabu Lasem kepada Putri Rangkesari. Tari Legong Lasem mengutamakangerak-gerak yang estetis, juga terdapatunsur-unsurekspresiatau drama.</p> <p>Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana metode pembelajaran Tari Legong Lasem di Sanggar Tari Warini, Bagaimana peminat Tari Legong Lasem di Sanggar Warini, dan Bagaimana hasil pembelajaran Tari Legong Lasem di Sanggar Warini, sebagai upaya dalam peningkatan pemahaman peserta didik untuk menarikan Tari Legong Lasem. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta menggunakan 2 metode yaitu demonstrasi dan imitasi.</p> <p>Tari Legong Lasem merupakan salah satu materi wajib yang diajarkan di Sanggar Tari Warini, karena tarian ini menjadi dasar untuk tarian yang lainnya. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat mengetahui proses pembelajaran Tari Legong Lasem di Sanggar Tari Warini sebagai dasar untuk melatih tari, sehingga melahirkan penari-penari yang memiliki kualitas dan teknik yang kuat karena kemauan sipenari serta yang terpenting yaitu ketekunan dan kesabaran dari seorang maestro tari Ibu Arini.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci :</strong><em>Tari Legong Lasem, Metode, Hasil</em></p> Ni Komang Putri Cahyanthi, Ni Made Arshiniwati, I Gusti Lanang Oka Ardhika Hak Cipta (c) 2022 Ni Komang Putri Cahyanthi, Ni Made Arshiniwati, I Gusti Lanang Oka Ardhika https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://jurnal2.isi-dps.ac.id/index.php/igel/article/view/1611 Wed, 15 Jun 2022 00:00:00 +0000