Produksi Karya Teater Pakeliran "BIBI ANU"
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v5i1.4886Kata Kunci:
Teater Pakeliran, Bali, Bibi AnuAbstrak
Teater Pakeliran "Bibi Anu" mengeksplorasi tema ketidakpastian lahan di Bali yang disebabkan oleh konversi lahan yang berkelanjutan, menyoroti konflik antara tradisi dan modernisasi yang mempengaruhi identitas budaya masyarakat Bali. Judul "Bibi Anu" memiliki makna filosofis yang mendalam, dengan "Bibi" melambangkan ibu sebagai penjaga kehidupan, dan "Anu" mencerminkan ketidakjelasan perubahan sosial. Karya ini menggabungkan seni pewayangan dan seni teater, dengan proses kreatif yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Setiap tahap mencerminkan hubungan yang berkembang antara manusia dan lahan, dari harmoni dengan alam hingga krisis yang dipicu oleh perubahan sosial yang cepat. Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga babak, masing-masing dengan makna yang signifikan. Babak pertama menggambarkan harmoni antara manusia dan alam berdasarkan prinsip Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Babak kedua mengeksamin pergeseran nilai-nilai tradisional akibat pariwisata, yang mengubah cara hidup di Bali. Babak ketiga berfokus pada krisis emosional yang diakibatkan oleh diskoneksi antara manusia dan lahan, menyebabkan perasaan kehilangan dan kecemasan. Karya ini mengajak refleksi kritis tentang tantangan melestarikan tradisi di tengah modernisasi. "Bibi Anu" memfasilitasi dialog tentang perubahan sosial dan lingkungan di Bali, mengeksplorasi hubungan kompleks antara manusia, budaya, dan alam dalam dunia yang berubah dengan cepat.
Unduhan
Referensi
[1] W. Widia, sumiyati dan G. Sedana, “Aspek Ritual pada Sistem Irigasi Subak,” Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), vol. 5, no. 1, pp. 23-56, 2015.
[2] G. A. Soetama, Dari Bule Jadi Bali, Denpasar: Buku Arti, 2010.
[3] H. H. Wicaksono dan Q. N. Wijayani, “Kritik Sosial Melalui Kesenian: Analisis Mahasiswa Universitas,” Harmoni : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial , vol. 2, no. 1, pp. 22-30, 2024.
[4] Y. S. Hadi, Mencitpta Lewar Tari, Yogyakarta: Manthili, 2003.
[5] D. Sugono dan Y. Maryani, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008.
[6] S. N. G. A. S. I. D. K. W. I. G. M. D. P. I Dewa Ketut WIcaksandita, “Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa, Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul,” Jurnal Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63-80, 2024.
[7] I. G. M. D. Putra, “Problematika Teater Pakeliran sebagai Konsep Garap dalam Seni Pewayangan,” Panggung, vol. 31, no. 3, pp. 386-400, 2021.
[8] R. A. Safitri dan A. Pramitasari, “Ambiguitas dalam konten kanal YouTube Najwa Shihab,” Prosiding Konfrensi Ilmiah Pendidikan, vol. 5, no. 1, pp. 71-79, 2024.
[9] J. Sumardjo, Filsafat Seni, Bandung: ITB , 2000.
[10] N. Sirtha, Subak: Konsep Pertanian Religius Perpektif Hukum, Budaya, dan Agama Hindu, Surabaya: Paramita, 2007.
[11] G. A. Soethama, Selalu Rindu Bali, Denpasar: Prasasti, 2019.
[12] G. A. Soethama, Mandi Api, Denpasar: Prasasti, 2006.
[13] Kemendikbud, Panduan Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020.
[14] I. K. Setiawan, “Kebertahanan Subak di Desa Kedewatan Ubud, di Tengah-Tengah Arus Pariwisata Global,” Pustaka Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, vol. 19, no. 2, pp. 107-111, 2019.
[15] S. Suparlan, “Keterampilan Membaca Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI,” FONDATIA, vol. 5, no. 1, pp. 1-12, 2021.
[16] B. Murtiyoso, Pengetahuan pedalangan, Surakarta: Sub Proyek Pengembangan ASKI, 1983.
[17] Darmoko, “Seni Gerak Dalam Pertunjukan Wayang Tinjauan Estetika,” Makara Human Behavior Studies in Asia, vol. 8, no. 2, pp. 83-89, 2004.
[18] A. Ahmadi, Laporan Penelitian Kreatifitas Karya Kriya Kulit Pengembangan Wayang Kulit Purwa, Surakarta: ISI Surakarta, 2015.
[19] E. Elpasa, I. Ismunandar dan A. Muniir, “KAJIAN MUSIKOLOGI MUSIK IRINGAN TARI JEPIN KERIS KARYA YUZA YANIS CHANIAGO,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, vol. 7, no. 5, 2018.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Arta Wiguna I Made, I Ketut Sudiana, I Dewa Ketut Wicaksandita

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.