PUTRI MURTI
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v5i1.4915Kata Kunci:
KATA KUNCI Putri Murti, Ratu Rupini, CalonarangAbstrak
ABSTRAK
Diceritakan pada suatu tempat yang bernama Uma Praksa berdirilah kerajaan yang bernama Brahma Purana yang dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Putri. Pada suatu malam Ratu Putri mengadakan rapat kerajaan yang diikuti Indurasmi. Pada saat rapat Ratu Indurasmi teringat cerita dari Brahmana Wisnu Yogi, bahwa ia hanya bisa dikalahkan dengan satu ajian yang bernama ajian Durga Murti Putri.
Keesokan harinya pada malam hari semua murid-murid Ratu Putri berkumpul di Setra Gandamayu yaitu Ni Sindur dan yang lainnya. Setelah melakukan pertapaan, datanglah Dewi Durga memberikan berkah kepada Ratu Putri dan yang lainnya. Setelah mendapatkan anugrah Ratu Putri dan yang lainnya kembali ke istana. Pada malam hari Ratu Mohini, Raja Putra, Ni Condong dan Waraha Putra melakukan persembahyangan bersama di Alas Putra yang dipimpin oleh ayahnya Ratu Mohini yang bernama Rsi Sri Nadaswara. Pada saat upacara berlangsung, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh semua orang terkejut, datanglah Awatara Dewa Wisnu yang bernama Hayagriva. Sang Kala Boma memanggil Delem dan Sangut untuk memberitahukan bahwa ia akan menghancurkan Uma Praksa dan sekitarnya. Pada malam harinya Sang Kala Boma mengacaukan Uma Praksa. Adik-adik Raja Putra dan murid-murid Ratu Putri, Ratu Rupini dan rencangannya saling memberikan serangan. Ratu Putri berubah wujud menjadi Rangda Putih dan Ratu Indurasmi berubah wujud menjadi Rangda Bang / Durga Bang. Peperangan ini berlangsung sampai 108 hari, Raja Putra diantar oleh Hayagriva menyadarkan adiknya yaitu Ratu Putri. Raja Putra berubah wujud menjadi Banaspati (Barong). Setelah berubah menjadi Barong, Raja Putra dan Ratu Putri pun tidak dapat kembali ke wujud aslinya terus menghilang.
Unduhan
Referensi
[1] Cudamani, Karmaphala dan Reingkarnasi. Jakarta: Yayasan Wisma Karma, 1992.
[2] I. N. Sedana, “Teori dan Metode Kreativitas Seni Berbasis Tradisi Kreatif Sanggit / Kawi Dalang,” Institut Seni Indonesia Bali, Denpasar, No. DIPA 023.17.2.677544/2021, 2021.
[3] I. N. Sedana, “Disertasi, Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre,” 2002.
[4] I. B. P. Suamba, Agni Purana. Denpasar: Penerbit Upada Sastra., 1995.
[5] I. M. Suarsa, Cerita Calonarang. Surabaya: Penerbit Paramita, 2015.
[6] C. Premadasa, Darah Memerah di Rukuh Setra. Denpasar: Penerbit Yayasan Dharma Serathi, 1989.
[7] I. K. Jelantik, Geguritan Lokika. Denpasar: Penerbit CV. Kayumas Agung., 2015.
[8] G. A. B. Adnyana, Pala Sruti Itihasa Jenjang Belajar Weda. Denpasar: Penerbit Pustaka Bali Post., 2009.
[9] S. Mulyono, Wayang: Asal Usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta: Penerbit PT Gunung Agung, 1978.
[10] L. M. Warsito, Kamus Indonesia – Jawa Kuno. Jakarta: Penerbit IKIP, 1992.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Putu Diki Laksamana, I Bagus Wijna Bratanatya, Ni Luh Ayu Cempaka Dewi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.