PENCIPTAAN KARYA TEATER PAKELIRAN SASTRA RUPA “JAPA TUAN”
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.4936Kata Kunci:
Pakeliran Sastra Rupa, Shadow puppet, Japa TuanAbstrak
Produksi teater Pakeliran Sastra Rupa Japa Tuan adalah sebuah pertunjukan yang menggabungkan elemen tradisi Bali dengan konsep estetika kontemporer. Produksi ini didasarkan pada sastra tradisional, khususnya gaguritan Japa Tuan, yang mengisahkan perjalanan spiritual dalam pencarian makna hidup. Melalui integrasi antara wayang (pertunjukan bayangan), gerakan tari, dan gending sanghyang (musik sakral), produksi ini bertujuan untuk menciptakan suasana sakral yang kaya akan makna spiritual dan kedalaman budaya. Keotentikan karya ini terletak pada proses eksplorasi kreatif yang menghadirkan estetika baru tanpa meninggalkan semangat tradisi. Penggunaan metode Astha Widhi Kawya menjadi pedoman dalam setiap tahap proses kreatif, mulai dari eksplorasi dan interpretasi hingga presentasi akhir. Alur cerita Japa Tuan diringkas dengan cermat untuk mempertahankan struktur dramatik yang kuat, dengan penekanan pada ekspresi vokal, gerakan, dan simbol-simbol tradisional yang mencerminkan nilai-nilai filosofis. Setiap elemen artistik dirancang untuk menyampaikan berbagai lapisan makna, memberikan pengalaman kontemplatif kepada penonton mengenai hubungan antara manusia dan yang pencipta. Inkorporasi bentuk seni tradisional Bali, seperti tari, musik, dan gestur simbolis, memperkuat keseluruhan suasana pertunjukan, memungkinkan para pemain menyalurkan energi spiritual mereka dan terhubung dengan penonton pada tingkat yang lebih dalam. Produksi ini juga berupaya menjembatani masa lalu dan masa kini dengan menafsirkan kembali bentuk-bentuk tradisional dalam cara yang dapat diterima oleh audiens modern, sambil tetap mempertahankan esensi sakralnya.
Unduhan
Referensi
[1] I. D. K. Wicaksandita and I. D. K. Wicaksana, "Siwa Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang," Panggung J. Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 419-441, 2025, doi: 10.26742/panggung.v35i3.2693.
[2] I. D. K. Wicaksandita, S. Hendra, Saptono, I. W. Sutirtha, and I. D. K. Wicaksana, "Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bagi Masyarakat Hindu di Bali," J. Penelit. Agama Hindu, vol. 9, no. 1, pp. 37-56, January 2025, doi: 10.37329/jpah.v9i1.3499.
[3] I. D. K. Wicaksana and I. D. K. Wicaksandita, "Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali," J. Penelit. Agama Hindu, vol. 7, no. 1, pp. 1-17, 2023, doi: 10.37329/jpah.v7i1.2126.
[4] I. D. K. Wicaksandita, S. N. G. A. Santika, I. D. K. Wicaksana, and I. G. M. D. Putra, "Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa, Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63-80, 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3744.
[5] I. P. Ardiyasa, "Makna Filosofis Elemen-Elemen Pertunjukan Wayang Kulit Lemah Bali," Genta Hredaya Media Inf. Ilm. Jur. Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, vol. 3, no. 2, pp. 43-47, 2020.
[6] S. W. Susiani, "Nilai-Nilai Moral Dalam Cerita Ramayana Karya Sunardi D. M.: Analisis Tokoh, Penokohan, Alur, Latar, dan Tema dan Relevansinya Sebagai Bahan Pembelajaran Sastra Untuk SMA Kelas X," Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2005.
[7] K. C. Gita, "Teks Dharma Pawayangan Sebagai Dasar Untuk Menjadi Seorang Dalang," J. Pangkaja, vol. 26, no. 2, pp. 160-166, 2023.
[8] I. D. K. Wicaksana, "Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan Pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali," Segara Widya J. Penelit. Seni, vol. 6, no. 1, pp. 10-15, 2018, doi: 10.31091/sw.v6i1.355.
[9] I. M. P. A. Dwipayana, D. Hendro, and I. B. W. Bratanatyam, "Wayang Arja Inovatif 'Tresnasih Japatuan Mencari Istri yang Sudah Meninggal Hingga ke Sorga'," J. Damar Pedalangan, vol. 2, no. 2, pp. 20-27, 2022, doi: 10.59997/dmr.v2i2.1862.
[10] I. G. N. Bagus, Cerita Panji Dalam Geguritan di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
[11] I. W. Watra and I. G. A. Mudiasih, "Teks Geguritan I Japatuan Sebagai Wujud Asiologis Religius Sosiobudaya Masyarakat Bali Hindu," J. Linguist., vol. 16, no. 30, pp. 1-18, 2009.
[12] I. D. K. Wicaksandita, "Signifikansi Narasi-Vokal dan Gerak Yoga dalam Membangun Karakter Tokoh pada Suasana Mistik Adegan Setra Pertunjukan Teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang Karya I Gusti Putu Sudarta," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, p. 12, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2853.
[13] I. G. P. Sudarta, "Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa: Proses Penciptaan Karya Teater Bertolak Dari Penjelajahan Teater Tradisi Bali," tatkala.co, 2022. Available: https://tatkala.co/2022/07/21/teater-pakeliran-tutur-candra-bherawa-proses-penciptaan-karya-teater-bertolak-dari-penjelajahan-teater-tradisi-bali/
. Accessed: October 7, 2025.
[14] I. A. W. A. Satyani, I. W. D. Putra, and I. W. A. Gunarta, "Tari Panji Masutasoma: Merawat Kebhinekaan, Memupuk Toleransi," Proc. Semin. Nas. Bali Sangga Dwipantara II, vol. 2, pp. 185-203, 2022.
[15] I. K. Sudiana, "Karya Seni Wayang Wahya Kelir Tanpa Batas," Dissertation, Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar, 2022.
[16] I. K. Sudiana, "Implementasi Metode Penciptaan Asta Widhi Kawya Dalam Karya Seni Wayang Wahya," in Seni Pertunjukan Wayang Indonesia: Telisik Ruang dan Waktu, A. Setiawan, Ed., Surakarta: ISI Press and Postgraduate Program, ISI Surakarta, 2023, pp. 303-321. Available: https://fliphtml5.com/wuwth/jomy/SENI_PERTUNJUKAN_WAYANG_INDONESIA_Telisik_Ruang_dan_waktu_%5BSarwanto%2C_dkk%5D/
. Accessed: October 7, 2025.
[17] P. J. Zoetmulder and S. O. Robson, Kamus Jawa Kuna-Indonesia, 2nd ed. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
[18] L. Mardiwarsito, S. S. Adiwimarta, and S. T. Suratman, Kamus Indonesia–Jawa Kuno. Jakarta: Pusat Penerbitan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1992, p. 172.
[19] N. M. Haryati, "Kajian Estetika Pada Pertunjukan Virtual Tari Kenapa Legong 'Japatuan'," in Proc. Seminar Nasional Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (Kajian Seni Pertunjukan dalam Virtual), Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, 2021, pp. 131-141.
[20] I. W. Warna, Kamus Kawi-Bali. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali, 1988.
[21] I. K. Sudiana, "Lakon Arjuna Tapa Dalam Perspektif Filsafat Wayang," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, p. 12, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2852.
[22] I. P. G. Suryanata and N. K. S. Marhaeni, "Peran Sastra Bali Dalam Perwujudan Nilai Budaya Pada Cerita Pewayangan," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 16-24, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2848.
[23] I. D. K. Wicaksandita, "Wayang Lemah Lakon Kunti Yadnya Pada Upacara Tumpek Wayang di ISI Denpasar: Analisis Struktur dan Fungsi," Kayonan J. Pendidik. Seni dan Budaya, vol. 1, no. 2, pp. 177-190, 2023.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 I Wayan Gunayasa, Dru Hendro, I Gusti Putu Sudarta

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.