Penciptaan Karya Mannequin Puppet "Asmara Samara"

Penulis

  • I Wayan Candra Asmara Nata Prodi Seni Pedalangan
  • I Made Marajaya
  • Ni Komang Sekar Marhaeni
  • I Gusti Made Darma Putra Universitas PGRI Mahadewa Indonesia image/svg+xml

DOI:

https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.4986

Kata Kunci:

mannequin puppet , Asmara Samara, pedalangan kontemporer, Dalang Anumana

Abstrak

Skripsi Tugas Akhir Studi Projek Independen yang dilaksanakan di Sanggar Seni Kuta Kumara Agung selama satu semester mengangkat karya seni Mannequin Puppet dengan judul Asmara Samara. Karya ini terinspirasi dari Wayang Golek Thailand, yang diadaptasi menjadi bentuk baru dengan penambahan elemen khas ornamen Bali. Cerita yang diusung dalam karya ini terinspirasi dari sebuah novel yang mengisahkan cinta seorang remaja yang terhalang oleh perselisihan antara kedua orang tua mereka. Demi mencapai kedamaian yang mereka dambakan, pasangan ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus mengalah. Pembuatan karya ini didasarkan pada metode Dalang Anumana, sebuah pendekatan penciptaan seni yang dirumuskan dan terus dikembangkan oleh Dr. I Gusti Made Darma Putra, S.Sn., M.Sn. Metode ini terdiri dari lima tahapan utama: (1) Ngawit (Memulai): Tahapan awal yang dimulai dengan pengamatan fenomena dan analisis data serta informasi yang mendukung. (2) Ngepah (Konsepsi): Proses menggali makna dari data melalui pencarian dan pengumpulan informasi hingga menemukan konsep karya seni. (3) Ngastawa (Spiritualitas): Tahapan ritual untuk "mengisi diri" secara spiritual, sebagai landasan dalam menciptakan karya. (4) Ngripta (Membuat): Proses pembentukan karya seni melalui penggarapan elemen-elemen yang telah terkonsepsi. (5) Ngebah (Mementaskan): Tahapan akhir berupa penyajian hasil karya seni

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

[1] I. D. K. Wicaksandita, S. Hendra, Saptono, I. W. Sutirtha, and I. D. K. Wicaksana, "Trans Memori Imajinasi Dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit Bagi Masyarakat Hindu di Bali," J. Penelit. Agama Hindu, vol. 9, no. 1, pp. 37–56, January 2025, doi: 10.37329/jpah.v9i1.3499.

[2] I. B. Agastia, Nilai Moral dan Spiritual dalam Seni Pertunjukan. Denpasar: Warta Hindu Dharma, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, 1996.

[3] I. D. K. Wicaksandita and I. D. K. Wicaksana, "Siva Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang," Panggung J. Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 419–441, 2025, doi: 10.26742/panggung.v35i3.2693.

[4] I. D. K. Wicaksandita, S. N. G. A. Santika, I. D. K. Wicaksana, and I. G. M. D. Putra, "Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa, Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63–80, 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3744.

[5] I. M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali Dari Ritual Ke Komersialisasi," Kalangwan J. Seni Pertunjuk., vol. 5, pp. 21–28, 2019.

[6] D. Hendro and M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Cenk Blonk Virtual Sebagai Media Sosialisasi Covid-19," Proc. Semin. Nas. Bali-Dwipantara Waskita, pp. 119–125, 2021.

[7] N. K. D. Yulianti and N. K. S. Marhaeni, "Analisis Nilai Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk Dalam Lakon 'Tidak Cukup Hanya Cinta'," Panggung, vol. 31, no. 2, pp. 239–249, 2021, doi: 10.26742/panggung.v31i2.1593.

[8] I. D. K. Wicaksana, "Ideologi dan Strategi Seniman Dalang Dalam Kreativitas Seni Pertunjukan Wayang," in Seminar Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar, 2017, pp. 1–14.

[9] I. D. K. Wicaksana, "Wayang Layar Lebar: Peluang dan Tantanganya di Era Revolusi Industri 4.0," Proc. Semin. Nas. Seni Pertunjuk. Nusant. Peluang dan Tantanganya Memasuki Era Revolusi Ind. 4.0, pp. 84–90, 2018.

[10] M. I. Cohen, "Global Modernities and Post-Traditional Shadow Puppetry in Contemporary Southeast Asia," Third Text, vol. 30, no. 3–4, pp. 188–206, July 2016, doi: 10.1080/09528822.2017.1305728.

[11] I. K. B. Dwitiya, "Wremada: Sebuah Transformasi Tantri dalam Pertunjukan Wayang Bali," Wayang Nusant. J. Puppetry, vol. 2, no. 2, pp. 78–91, 2019, doi: 10.24821/wayang.v2i2.3050.

[12] D. Safitri and V. I. S. Pinasti, "Eksistensi Papermoon Puppet Theatre pada Era Modernisasi di Yogyakarta," J. Pendidik. Sosiol., vol. 7, no. 1, pp. 1–18, 2018.

[13] I. G. M. D. Putra, "Wacana Manggala Segara Tanpa Tepi Dalam Karya Teater Inovatif," Proc. WIDYADHARMA I, pp. 261–266, 2023.

[14] denpasarkota.go.id, "Wayang Ental, Ide 'Orang-orangan' dari Daun Ental," denpasarkota.go.id, p. 1, 2019. [Online]. Available: https://www.denpasarkota.go.id/berita/wayang-ental-ide-orang-orangan-dari-daun-ental

[15] IDN Times, "Yuk, Intip 9 Pesona Wayang Ental 3D di Festival Seni Bali Jani 2019!," idntimes.com, p. 1, 2019. [Online]. Available: https://www.idntimes.com/travel/journal/erlian-garwane-bayu/pesona-wayang-ental-3d-di-festival-seni-bali-jani-2019-c1c2?page=all

[16] S. F. Saputri, "Efektivitas Penggunaan Boneka Manekin Terhadap Wawasan Pendidikan Seksual Untuk Anak Usia 5-6 Tahun," Undergraduate Thesis, Universitas Pendidikan Indonesia, Purwakarta, 2020.

[17] K. Kopania, Ed., Dolls and Puppets as Artistic and Cultural Phenomena: 19th–21st Centuries. Bialystok, Poland: The Aleksander Zelwerowicz National Academy of Dramatic Art in Warsaw (The Department of Puppetry Art in Bialystok), 2016.

[18] J. Kordjaek et al., Puppets: Theatre, Film, Politics. Warsaw: Zacheta – National Gallery of Art, 2019. [Online]. Available: https://zacheta.art.pl/public/upload/mediateka/pdf/5cc840854ba0e.pdf

[19] I. D. G. J. Mejaya, I. D. K. Wicaksana, and I. M. Sidia, "Gugurnya Bhisma Oleh Srikandi: Studi Mengenai Refleksi Konsep Karma-Phala Melalui Cerita Mahabharata," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 2, pp. 108–118, August 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i2.4386.

[20] I. D. K. Wicaksandita, I. G. T. Pastika, and S. N. G. A. Santika, "Analisis Makna Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Tantri Lakon Bhagawan Kundala Sebagai Penerapan Konsep Tri Hita Karana," J. Pendidik. Seni Budaya, vol. 1, no. 1, pp. 60–69, 2023.

[21] W. I. K. Wahyu, S. N. G. A. Sang, and B. I. B. Wijna, "Konsep Harmoni Bhuana Agung - Bhuana Alit Pada Penyacah Parwa/Kanda Dan Signifikansinya Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Bali," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 2, pp. 91–99, August 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i2.4384.

[22] M. Arsyad, Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Perguruan Tinggi. Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press, 2021.

[23] J. W. Creswell, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015, p. 633.

[24] I. G. M. D. Putra, "Disertasi Teater Tanpa Tepi: Refleksi Pengembaraan Diri I Gusti Made Darma Putra," Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar, 2022.

[25] I. K. Suteja, Catur Asrama Pendakian Spiritual Masyarakat Bali dalam Sebuah Karya Seni Tari. Surabaya: Penerbit Paramita, 2018.

[26] I. G. A. Srinatih, Selat Segara. Denpasar: Balimangsi Fondation, 2018.

[27] I. W. Dibia, Panca Sthiti Ngawi Sani Metodologi Penciptaan Seni. Denpasar: Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar, 2020.

[28] I. D. K. Wicaksana and I. M. Sidia, Bahan Ajar: Konsep Dasar Metode Penciptaan. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2018, p. 82.

[29] I. M. Marajaya, Buku Ajar: Estetika Pedalangan. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2015, p. 70.

[30] A. Permas, Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Jakarta: Penerbit PPM, 2003.

[31] Z. P. Ramadani, Gesture Mengungkap Makna di Balik Bahasa Tubuh Orang Lain dari Mikroekspresi dan Makroekspresi. Klaten: Penerbit Jendela, 2021.

[32] I. N. Sedana, "Triadic Interplay: A Model of Transforming Literature into Wayang Theatre," Southeast Asian Rev. Engl., vol. 56, no. 1, pp. 11–25, July 2019, doi: 10.22452/sare.vol56no1.3.

Unduhan

Diterbitkan

2025-10-08

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Penciptaan Karya Mannequin Puppet "Asmara Samara". (2025). JURNAL DAMAR PEDALANGAN, 5(2), 115-124. https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.4986