Jurnal Hasil Penciptaan Karya Pakeliran Teater Karnayana

Penulis

  • I Putu Esa Putra Dananjaya Institut Seni Indonesia Denpasar image/svg+xml
  • Sang Nyoman Gede Adhisantika Institut Seni Indonesia Bali
  • I Dewa Ketut Wicaksandita Institut Seni Indonesia Bali
  • Ni Luh Ayu Cempaka Dewi Institut Seni Indonesia Bali

DOI:

https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.4998

Kata Kunci:

Merdeka belajar, Pakeliran Teater, Catur Datu Kawya, Karnayana, Karna

Abstrak

    Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) memberikan peluang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di luar kampus yang mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan mereka. Salah satu bentuk implementasi program MBKM adalah melalui kemitraan dengan komunitas atau lembaga seni budaya, seperti Komunitas Bajrajnyana Music Theater. Komunitas ini dikenal sebagai wadah yang mendorong ekspresi seni melalui pertunjukan teater musik yang menggabungkan unsur seni tradisional dan kontemporer.

Karnayana adalah sebutan yang memiliki arti perjalanan sang Karna yang merupakan salah satu karakter sentral dalam epos Mahabharata, serta perannya dalam seni pewayangan Bali, baik dalam tradisi klasik maupun modern. Dalam pewayangan Bali tradisional, Karna digambarkan sebagai simbol loyalitas, keberanian, dan dilema moral yang mencerminkan nilai-nilai dharma. Pementasan tradisional sering menonjolkan kisah perjuangan Karna untuk menemukan identitasnya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Dalam pewayangan Bali modern, tokoh Karna mengalami reinterpretasi yang menyesuaikan dengan perkembangan sosial, budaya, dan teknologi. Narasi tentang Karna sering diadaptasi untuk menyampaikan pesan yang relevan dengan isu-isu kontemporer, seperti keadilan sosial, persaudaraan, dan pengorbanan. Pendekatan modern ini juga melibatkan penggunaan elemen teknologi, musik, dan estetika baru untuk menarik perhatian generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai inti.

Karya ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan penyajian tokoh Karna dalam pewayangan Bali tradisional dan modern serta bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam kisahnya tetap relevan dalam lintas generasi.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

[1] I. G. N. Gumana Putra, "Variasi Retorika dalam Pertunjukan Wayang Cenk Blonk," Segara Widya J. Penelit. Seni, vol. 9, no. 2, pp. 106–118, 2021, doi: 10.31091/sw.v9i2.1741.

[2] I. D. K. Wicaksandita, H. Santosa, and I. K. Sariada, "Konsep Dasa Paramartha pada Karakterisasi Tokoh Aji Dharma dalam Pertunjukan Wayang Tantri oleh I Wayan Wija," Dance Theatre Rev., vol. 3, no. 1, pp. 1–1, 2020, doi: 10.24821/dtr.v3i1.4415.

[3] Warsono and B. Latif, "Pagelaran Wayang Kulit Sebagai Sarana Aktualisasi Pendidikan Nilai Kearifan Lokal Dalam Tradisi Rasulan Di Karanganyar," Dance Theatre Rev., vol. 7, no. 2, pp. 101–109, 2024, doi: 10.24821/dtr.v7i2.14145.

[4] I. D. K. Wicaksandita, S. N. G. A. Santika, I. D. K. Wicaksana, and I. G. M. D. Putra, "Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa, Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63–80, 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3744.

[5] I. M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali Dari Ritual Ke Komersialisasi," Kalangwan J. Seni Pertunjuk., vol. 5, pp. 21–28, 2019.

[6] I. M. Marajaya, "Pakeliran Layar Lebar: A Development of the Balinese Shadow Puppet," J. Linguistics Cult. Rev., vol. 7, pp. 22–38, 2023.

[7] I. D. K. Wicaksandita and I. D. K. Wicaksana, "Siva Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang," Panggung J. Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 419–441, 2025, doi: 10.26742/panggung.v35i3.2693.

[8] I. N. Sudanta, "Eksistensi Pementasan Wayang Kulit Parwa Sukawati Pada Era Globalisasi," J. Widya Wertta, vol. 2, no. 1, pp. 127–141, 2019.

[9] I. G. A. Sucitra, "Eksplorasi Nilai-nilai Tradisi dalam Konsep Estetika Seni Rupa Kontemporer Indonesia," JSRW J. Senirupa Warna, vol. 4, no. 1, pp. 33–45, 2019, doi: 10.36806/jsrw.v4i1.47.

[10] I. G. A. B. Senopati and I. D. K. Wicaksandita, "Wayang Bali dan Aktivisme Sosial: Studi Kasus Retorika dan Wayang Sampah Daur Ulang Dalam Teaser Sinematografi Pahayu Gumine," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 41–53, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2851.

[11] I. N. Sedana, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali antara Tradisi dan Inovasi," Denpasar, 1993.

[12] I. D. K. Wicaksana, "Ideologi dan Strategi Seniman Dalang Dalam Kreativitas Seni Pertunjukan Wayang," in Seminar Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar, 2017, pp. 1–14.

[13] W. Aryandini, Seni Pertunjukan Indonesia dengan Pendekatan Filsafat Studi Kasus: Pergelaran Wayang Kulit. Surakarta: The Ford Foundation & Program Pendidikan Pasca Sarjana STSI Surakarta, 2005, p. 200.

[14] T. Haryadi and Khamadi, "Perancangan Model Wujud Visual Tokoh Pewayangan Dalam Pembentukan Identitas Dan Watak Tokoh Sebagai Acuan Desain Karakter Dalam Karya DKV," DeKaVe, vol. 7, no. 2, pp. 58–79, July 2015, doi: 10.24821/dkv.v7i2.1280.

[15] I. D. K. Wicaksana and I. D. K. Wicaksandita, "Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali," J. Penelit. Agama Hindu, vol. 7, no. 1, pp. 1–17, 2023, doi: 10.37329/jpah.v7i1.2126.

[16] E. Setiawan, "Nilai Filosofi Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah," Al-Hikmah, vol. 18, no. 1, pp. 33–49, 2020, doi: 10.35719/alhikmah.v18i1.21.

[17] S. N. G. A. Santika, I. M. Marajaya, and I. K. Kodi, "Teater Pakeliran 'Sang Anom'," 2017, [Online]. Available: http://download.isi-dps.ac.id/index.php/category/4

...

[18] I. K. P. Nugraha, I. N. Sedana, and D. Hendro, "Teater Pakeliran Padat 'Prabha Kanya'," 2017, [Online]. Available: http://download.isi-dps.ac.id/index.php/category/4

...

[19] I. N. N. Sulistiawan, I. G. P. Sudarta, and N. D. Purnamawati, "Teater Pakeliran 'Arya Pengalasan'," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 1, pp. 65–72, April 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i1.2295.

[20] I. G. M. D. Putra, "Problematika Teater Pakeliran sebagai Konsep Garap dalam Seni Pewayangan," Panggung, vol. 31, no. 3, pp. 385–400, September 2021, doi: 10.26742/panggung.v31i3.1714.

[21] I. G. D. Artawan, I. M. Marajaya, and I. G. N. G. Putra, "Teater Pakeliran Wayang Penyalonarangan 'Pangristaning Mujung Sari'," J. Damar Pedalangan, vol. 2, no. 2, pp. 28–36, October 2022, doi: 10.59997/dmr.v2i2.1863.

[22] I. G. M. A. A. Sedayatana and D. Hendro, "Teater Pakeliran 'Wayang Nutur Pupu Tikel'," J. Damar Pedalangan, vol. 2, no. 1, pp. 73–83, April 2022, doi: 10.59997/dmr.v2i1.1527.

[23] I. G. P. Sudarta and I. G. M. D. Putra, "Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa: Proses Penciptaan Bertolak Dari Penjelajahan Teater Tradisi," in Bali Sangga Dwipantara II, Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2022, pp. 286–296. [Online]. Available: https://eproceeding.isibali.ac.id/index.php/bdw/article/view/352

[24] I. N. Sedana, "Teori dan Metode Kreativitas Seni Berbasis Tradisi Kreatif Sanggit / Kawi Dalang," Institut Seni Indonesia Bali, Denpasar, No. DIPA 023.17.2.677544/2021, 2021.

[25] A. I. K. A. Supadma, S. I. Nyoman, and K. I. Ketut, "Penciptaan Karya Teater Pakeliran 'Ngaramu Yana'," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 2, pp. 146–152, August 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i2.4391.

[26] T. Subagya, "Karakter Tokoh Karna Dalam Cerita Pewayangan Versi Jawa dan Sunda," Lakon J. Pengkaj. Pencipta. Wayang, vol. 7, no. 1, pp. 72–90, 2015, doi: 10.33153/lakon.v11i1.2155.

[27] N. S. Pendit, Mahabharata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003, p. 477.

[28] K. Subramaniam, Mahabharata. Surabaya: Paramita, 2002, p. 847.

[29] I. N. Sedana, "Disertasi, Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre," Ph.D. dissertation, University of Georgia, Athens, Georgia, 2002. [Online]. Available: https://getd.libs.uga.edu/pdfs/sedana_i_nyoman_200205_phd.pdf

[30] M. Arsyad, Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Perguruan Tinggi. Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press, 2021.

[31] I. D. K. Wicaksandita, "Signifikansi Narasi-Vokal Dan Gerak Yoga Dalam Membangun Karakter Tokoh Pada Suasana Mistik Adegan Setra Pertunjukan Teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang Karya I Gusti Putu Sudarta," J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 12–12, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2853.

[32] I. M. S. Wisena, I. K. Kodi, and I. G. P. Sudarta, "Gagar Teater Wayang Lingkungan," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 48–53, 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3742.

[33] N. B. Subamia, I. N. Sedana, and I. B. W. Bratanatyam, "Wayang Pakeliran 'Caru Somya Hita'," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 38–47, April 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3741.

[34] I. N. D. Rahyuda, I. M. Sidia, and I. B. W. Bratanatyam, "Penciptaan Karya Wayang Goni Tiga Dimensi 'Quarter Life Crisis'," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 11–18, April 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3721.

[35] N. M. A. Jaya, I. M. Marajaya, and I. K. Widnyana, "Penciptaan Teater Wayang Cili 'Kalulut Asih'," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 1–10, April 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3718.

[36] I. B. A. W. Singarsa, I. B. A. Kanaka, I. K. D. Adisaputra, I. A. S. Widnyani, and I. D. K. Wicaksandita, "Wanita Dalam Seni Pedalangan Bali: Studi Kasus Partisipasi 'Dalang Luh' Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Minat Seni Pedalangan," J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 2, pp. 119–129, August 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i2.4387.

[37] I. D. K. Wicaksana and I. M. Sidia, Bahan Ajar: Konsep Dasar Metode Penciptaan. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2018, p. 82.

[38] I. M. Marajaya, Buku Ajar: Estetika Pedalangan. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2015, p. 70.

[39] A. Permas, Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Jakarta: Penerbit PPM, 2003.

[40] Z. P. Ramadani, Gesture Mengungkap Makna Di Balik Bahasa Tubuh Orang Lain Dari Mikroekspresi & Makroekspresi. Klaten: Penerbit Jendela, 2021.

Unduhan

Diterbitkan

2025-10-08

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Jurnal Hasil Penciptaan Karya Pakeliran Teater Karnayana. (2025). JURNAL DAMAR PEDALANGAN, 5(2), 125-135. https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.4998