Teater Wayang Golek Topeng GEGER GIANYAR

Penulis

  • I Ketut Kertajaya Institut Seni Indonesia Bali
  • I Nyoman Sedana Institut Seni Indonesia Bali
  • I Made Sidia Institut Seni Indonesia Bali

DOI:

https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.5003

Kata Kunci:

wayang golek topeng, geger gianyar

Abstrak

Wayang Golek Topeng Geger Gianyar merupakan karya teater inovatif yang memadukan unsur tradisional Bali dengan estetika kontemporer. Kreasi ini mengadopsi wayang golek topeng sebagai media utamanya, yang mencerminkan warisan budaya topeng Bali yang mengakar sekaligus mengintegrasikan tema-tema modern yang relevan dengan dinamika masyarakat saat ini. Proses produksinya berpedoman pada metode Catur Datu Kawya karya Prof I Nyoman Sedana, menekankan imajinasi (Pandulame), ide dan emosi (Adicita Adirasa), pemilihan media (Sranasasmaya), dan keterampilan teknis (Gunatama). Tantangan dalam menciptakan karya ini antara lain keterbatasan waktu, rumitnya pengalihan teknik tari tradisional menjadi manipulasi wayang, dan kendala logistik tempat pertunjukan. Meski menghadapi tantangan tersebut, Geger Gianyar berhasil menyampaikan pesan moral tentang keseimbangan tradisi dan modernitas, sekaligus menonjolkan kekayaan budaya Bali melalui medium wayang golek topeng. Artikel ini mengeksplorasi proses kreatif, nilai estetika, dan makna budaya dari karya tersebut, yang berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan seni pertunjukan Bali.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

[1] Dwitiya, I. K. B. (2019). Wrémada: Sebuah Transformasi Tantri dalam Pertunjukan Wayang Bali. Wayang Nusantara: Journal of Puppetry, 2(2), 78–91. https://doi.org/10.24821/wayang.v2i2.3050

[2] Baliberkarya. (2019). Terancam Punah, Wayang Wong Inovatif Akhirnya Dikembangkan Bagi Kaum Milenial. Bali Berkarya Suara Rakyat Bali Membangun. Diakses 15 Mei 2025, dari https://baliberkarya.com/berita/201909250010/terancam-punah-wayang-wong-inovatif-akhirnya-39dikembangkan39-bagi-kaum-milenial

[3] Sudanta, I. N. (2019). Eksistensi Pementasan Wayang Kulit Parwa Sukawati pada Era Globalisasi. Widya Wertta, 2(1), 127–141.

[4] Grehenson, G. (2013). Wayang Ditinggal Generasi Muda. Liputan/Berita Universitas Gadjah Mada. Diakses dari https://ugm.ac.id/id/berita/7928-wayang-ditinggal-generasi-muda/#

[5] Suwena, I. W. (2018). Dinamika Kebudayaan Bali: Suatu Kajian Kebudayaan Sebagai Proses. Sunari Penjor, 2(2), 89–101. https://doi.org/10.24843/SP.2018.v2.i02.p02

[6] Ahmed, F. (2022). Globalization and its Impact on Indigenous Art Forms. International Journal of Fine, Performing and Visual Arts (IJFPVA), 2(2), 11–15.

[7] Haryadi, T., & Khamadi. (2015). Perancangan Model Wujud Visual Tokoh Pewayangan dalam Pembentukan Identitas dan Watak Tokoh sebagai Acuan Desain Karakter dalam Karya DKV. DeKaVe, 7(2), 58–79. https://doi.org/10.24821/dkv.v7i2.1280

[8] Wicaksandita, I. D. K., Hendra, S., Saptono, Sutirtha, I. W., & Wicaksana, I. D. K. (2025). Trans Memori Imajinasi dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit bagi Masyarakat Hindu di Bali. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 9(1), 37–56. https://doi.org/10.37329/jpah.v9i1.3499

[9] Sidemen, I. B. (1980). Geguritan Rereg Gianyar (Alih Aksara dan Alih Bahasa). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses dari https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23539/1/GEGURITAN%20REREG%20GIANYAR.pdf

[10] Arjawa, G. S. (t.t.). Fenomena Konflik Sosial yang Terjadi di Bali. Repositori Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana. Diakses dari https://repositori.unud.ac.id/protected/storage/upload/repositori/ce9fffa14818877b078b1a32c5960115.pdf

[11] Alit, D. M., Pramartha, I. N. B., Purnawati, D. M. O., Darmada, I. M., & Sari, R. R. (2020). Pembrontakan Cokorda Oka Karang terhadap Kerajaan Gianyar. Social Studies, 8(1), 110–124.

[12] Purana, I. M. (2022). Konflik dan Integrasi antara Desa Pakraman dan Tempekan Suka Duka: Dinamika Sosial Budaya di Desa Blahbatuh, Gianyar-Bali. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 8(1), 118–128. https://doi.org/10.23887/jiis.v8i1.40265

[13] Pirmansyah, K., dkk. (2024). Wayang Golek di Era Modern: Sejarah, Keunikan, dan Tantangan yang Dihadapi. Prosiding Seminar Nasional Penelitian LPPM UMJ. Diakses dari https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit/article/view/25262

[14] Ahmad, E. D., Mukarom, Z., & Ridwan, A. (2020). Wayang Golek sebagai Media Dakwah (Studi Deskriptif pada Kegiatan Dakwah Ramdan Juniarsyah). Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 3(2), 190–207. https://doi.org/10.15575/tabligh.v3i2.633

[15] Setyawan, J. R. R., Precillia, M., & Jaeni. (2025). Analisis Struktur Dramatik Wayang Golek Babon Mahabrata. JADECS: Journal of Art, Design, Art Education and Culture Studies, 10(1), 13–22. https://doi.org/10.17977/um037v10i12025p13-22

[16] Rosyadi. (2009). Wayang Golek dari Seni Pertunjukan ke Seni Kriya (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 1(2), 135–148. https://doi.org/10.30959/patanjala.v1i2.239

[17] Sadono, S., Nugroho, C., & Nasionalita, K. (2018). Pewarisan Seni Wayang Golek di Jawa Barat. Jurnal Rupa: Jurnal Seni, Kriya, dan Budaya Visual, 3(2), 150–163. https://doi.org/10.25124/rupa.v3i2.1822

[18] Putra, I. D. A. D. (2019). Menelusuri Jejak Rupa Wayang Klasik Bali. Jurnal Rupa, 3(2), 130. https://doi.org/10.25124/rupa.v3i2.1821

[19] Suantika, I. W. (2015). Sejarah Gianyar dari Zaman Prasejarah sampai Modern. Gianyar: Pemerintah Kabupaten Gianyar.

[20] Ardika, I. W., Parimartha, I. G., & Wirawan, A. A. B. (2015). Sejarah Bali dari Prasejarah hingga Modern. Denpasar: Udayana University Press.

[21] Santi, N. K. A. (2013). Menguak Misteri Pementasan Barong dan Rangda dari Sudut Pandang Sains. Surabaya: Penerbit Paramita.

[22] Warna, I. W. (1988). Kamus Kawi-Bali. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali.

[23] Pulasari, J. M. (2010). Babad Raja-Raja Bali. Surabaya: Penerbit Paramita.

[24] Djajasudarma, F. (2006). Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Refika Aditama.

[25] Sedana, I. N. (2002). Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre (Disertasi, University of Georgia). Diakses dari https://getd.libs.uga.edu/pdfs/sedana_i_nyoman_200205_phd.pdf

[26] Sedana, I. N. (2021). Teori dan Metode Kreativitas Seni Berbasis Tradisi Kreatifitas Sanggit/Kawi Dalang. Denpasar: Program Studi Seni Pedalangan.

[27] Ermawan, I. G. J., Sedana, I. N., & Sudiana, I. K. (2023). Wayang Klupak ‘Manik Angkeran’. Jurnal Damar Pedalangan, 3(1), 9. https://doi.org/10.59997/dmr.v3i1.2291

[28] Manuaba, I. B. D. D., Marajaya, I. M., & Sudiana, I. K. (2024). Penciptaan Karya Pertunjukan ‘Teater Pakeliran Kalakama’. Jurnal Damar Pedalangan, 4(2), 130–137. https://doi.org/10.59997/dmr.v4i2.4388

[29] Satyana, I. K. H., Putra, I. G. N. G., & Sidia, I. M. (2024). Teater Wayang Kaca ‘Rawi Muksha’. Jurnal Damar Pedalangan, 4(1), 19–28. https://doi.org/10.59997/dmr.v4i1.3722

[30] Subamia, N. B., Sedana, I. N., & Bratanatyam, I. B. W. (2024). Wayang Pakeliran ‘Caru Somya Hita’. Jurnal Damar Pedalangan, 4(1), 38–47. https://doi.org/10.59997/dmr.v4i1.3741

[31] Wicaksana, I. D. K. (2017). Ideologi dan Strategi Seniman Dalang dalam Kreativitas Seni Pertunjukan Wayang. Seminar Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, 1–14.

[32] Wicaksandita, I. D. K. (2023). Signifikansi Narasi-Vokal dan Gerak Yoga dalam Membangun Karakter Tokoh pada Suasana Mistik Adegan Setra Pertunjukan Teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang Karya I Gusti Putu Sudarta. Jurnal Damar Pedalangan, 3(2), 12. https://doi.org/10.59997/dmr.v3i2.2853

[33] Dipa Raditya, W., & Sidia, I. M. (2021). Kajian Gerak Wayang Style Sukawati oleh Dalang Suwija. Jurnal Damar Pedalangan, 1(1), 49–57. https://doi.org/10.59997/dmr.v1i1.690

Unduhan

Diterbitkan

2025-10-08

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Teater Wayang Golek Topeng GEGER GIANYAR. (2025). JURNAL DAMAR PEDALANGAN, 5(2), 136-145. https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.5003