Penciptaan karya teater monolog wayang upih moved motion
moved motion
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v5i2.5058Kata Kunci:
moved motion, teater monolog wayang upihAbstrak
Program Pembelajaran Kampus Merdeka (MBKM) membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terjun langsung dalam praktik berkarya di luar bidang akademik. Karya ini bertujuan untuk diwujudkan sebagai program seni bersama komunitas Wasesa Ananta. Prosesnya melibatkan eksplorasi unsur-unsur tradisional dan modern. dengan pendekatan partisipatif sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya bersifat artistik tetapi juga kebutuhan dan identitas masyarakat
Metode kreasi yang digunakan adalah penelitian lapangan, focus group Discussion (FGD) dengan warga masyarakat dan eksplorasi kreasi dengan workshop seni
Hasil kreasinya adalah pertunjukan seni kolaborasi yang memadukan unsur tari, musik, dan teater tradisional dengan inovasi kontemporer.
Proses ini tidak hanya mewujudkan karya seni tetapi juga memberikan koneksi antara mahasiswa dan masyarakat, dan pengalaman seni, serta apresiasi seni dan budaya lokal.
Unduhan
Referensi
[1] B. Pudjasworo, H. B. Prasetya, I. W. Senen, M. H. Raditya, U. Rokhani, and Yudiaryani, Eds., Karya Cipta Seni Pertunjukan. Yogyakarta, Indonesia: JB Publisher, Faculty of Performing Arts, Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, 2017.
[2] A. M. Irianto, “Kesenian tradisional sebagai sarana strategi kebudayaan di tengah determinasi teknologi komunikasi,” Nusa J. Ilmu Bahasa dan Sastra, vol. 12, no. 1, p. 90, Feb. 2017, doi: 10.14710/nusa.12.1.90-100.
[3] I. D. K. Wicaksandita, S. Hendra, Saptono, I. W. Sutirtha, and I. D. K. Wicaksana, “Trans memori imajinasi dalam pewarisan nilai monumental pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Hindu di Bali,” J. Penelit. Agama Hindu, vol. 9, no. 1, pp. 37–56, Jan. 2025, doi: 10.37329/jpah.v9i1.3499.
[4] I. W. Winaja, Transformasi Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter dalam Pertunjukan Wayang Cenk Blonk, 1st ed. Denpasar, Indonesia: Cakra Press & Postgraduate Program, Universitas Hindu Indonesia, 2017, p. 102.
[5] I. G. P. E. Suryana and I. G. M. Y. Antara, “Menggali nilai-nilai pelestarian lingkungan geografis pada beberapa desain seni pewayangan Bali,” Media Komunikasi Geografi, vol. 20, no. 1, p. 56, Jun. 2019, doi: 10.23887/mkg.v20i1.17257.
[6] A. Purwantoro, N. Afatara, S. Sasongko, and J. A. Munib, “Penciptaan wayang Godhonk berbahan limbah daun kering sebagai upaya peningkatan pengetahuan seni budaya,” Texture Art Cult. J., vol. 4, no. 2, pp. 104–109, Dec. 2021, doi: 10.33153/texture.v4i2.3701.
[7] N. Rachmawati and S. Zurinani, “Simbolisasi budaya Jawa dalam bentuk wayang suket Puspasarira,” Judul Kusa Lawa, vol. 3, no. 1, pp. 84–100, 2023.
[8] K. S. Antoro, Wayang Uwuh Plastik (Wayang Limbah Plastik). Yogyakarta, Indonesia: Ministry of Education, Culture, Research, and Technology, 2023.
[9] T. Santoso, “Wayang golek ringan pemanfaatan limbah sebagai pengembangan boneka wayang golek,” Gelar J. Seni Budaya, vol. 18, no. 1, pp. 23–34, Jul. 2020, doi: 10.33153/glr.v18i1.2982.
[10] I. G. A. B. Senopati and I. D. K. Wicaksandita, “Wayang Bali dan aktivisme sosial: Studi kasus retorika dan wayang sampah daur ulang dalam teaser sinematografi Pahayu Gumine,” J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 41–53, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2851.
[11] I. W. E. Gunarta, “Ngurah Senglad garap pementasan monster sampah di Gianyar, masyarakat jangan cuek,” Berita Gianyar, p. 1, 2023. [Online]. Available: https://bali.tribunnews.com/2022/05/12/ngurah-senglad-garap-pementasan-monster-sampah-di-gianyar-masyarakat-jangan-cuek
. Accessed: Jun. 2, 2025.
[12] H. Purwoko, “Wayang daun sebagai siasat dalam ruang,” J. Seni Nasional Cikini, vol. 8, no. 1, pp. 55–60, Jun. 2022, doi: 10.52969/jsnc.v8i1.166.
[13] I. K. Sudiana, “Implementasi metode penciptaan Asta Widhi Kawya dalam karya seni wayang Wahya,” in Seni Pertunjukan Wayang Indonesia: Telisik Ruang dan Waktu, A. Setiawan, Ed. Surakarta, Indonesia: ISI Press & Postgraduate Program, ISI Surakarta, 2023, pp. 303–321. [Online]. Available: https://fliphtml5.com/wuwth/jomy/SENI_PERTUNJUKAN_WAYANG_INDONESIA_Telisik_Ruang_dan_waktu_%5BSarwanto%2C_dkk%5D/
. Accessed: Jun. 2, 2025.
[14] I. K. Sudiana, “Karya seni wayang Wahya kelir tanpa batas,” Dissertation, Doctoral Program in Performing Arts, Indonesian Institute of the Arts Denpasar, 2022.
[15] “Wayang Sunar kisahkan sisi paling terang sosok Rahwana,” MediaPijar.com, 2020. [Online]. Available: https://mediapijar.com/2020/10/wayang-sunar-kisahkan-sisi-paling-terang-sosok-rahwana/
. Accessed: Jun. 2, 2025.
[16] Denpasarkota.go.id, “Wayang ental, ide ‘orang-orangan’ dari daun ental,” Denpasarkota.go.id, p. 1, 2019. [Online]. Available: https://www.denpasarkota.go.id/berita/wayang-ental-ide-orang-orangan-dari-daun-ental
. Accessed: Jun. 2, 2025.
[17] I. D. K. Wicaksandita, S. N. G. A. Santika, I. D. K. Wicaksana, and I. G. M. D. Putra, “Nilai-nilai estetika Hindu wayang kulit Bali: Studi kasus internalisasi Jana Kertih melalui karakter tokoh Pandawa, sebagai media representasi ideal manusia unggul,” J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63–80, 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i1.3744.
[18] I. D. K. Wicaksandita, “Signifikansi narasi-vokal dan gerak yoga dalam membangun karakter tokoh pada suasana mistik adegan setra pertunjukan teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang karya I Gusti Putu Sudarta,” J. Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, p. 12, 2023, doi: 10.59997/dmr.v3i2.2853.
[19] (Duplicate of [10], removed).
[20] I. B. A. W. Singarsa, I. B. A. Kanaka, I. K. D. Adisaputra, I. A. S. Widnyani, and I. D. K. Wicaksandita, “Wanita dalam seni pedalangan Bali: Studi kasus partisipasi ‘Dalang Luh’ dalam meningkatkan motivasi dan minat seni pedalangan,” J. Damar Pedalangan, vol. 4, no. 2, pp. 119–129, Aug. 2024, doi: 10.59997/dmr.v4i2.4387.
[21] A. Kurniawan, H. Hariyanto, and A. M. Wisesa, “Dampak limbah pakaian terhadap lingkungan sebagai konsep penciptaan karya fotografi seni,” JoLLA J. Lang. Lit. Arts, vol. 2, no. 9, pp. 1238–1254, Oct. 2022, doi: 10.17977/um064v2i92022p1238-1254.
[22] L. L. Iliyun, “Limbah kayu sebagai media karya seni lukis,” J. Pendidik. Seni Rupa, vol. 5, no. 2, pp. 178–191, 2017.
[23] A. Pramono, T. I. W. Primadani, A. Purnomo, R. R. Amalia, P. S. Jonowibowo, and K. Hutamargo, “Dari limbah menjadi karya: Pemanfaatan limbah industri interior untuk produk furnitur,” J. Desain Interior, vol. 10, no. 1, pp. 37–46, 2025, doi: 10.12962/j12345678.v10i1.21548.
[24] I. D. K. Wicaksana, “Ideologi dan strategi seniman dalang dalam kreativitas seni pertunjukan wayang,” in Seminar Seni Pertunjukan, Faculty of Performing Arts, Indonesian Institute of the Arts Denpasar, 2017, pp. 1–14.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 I Made Adi Pranajaya, I Kadek Widnyana, I Dewa Ketut Wicaksana, Hanolda Gema Akbar

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.