Teater Wayang Inovatif Satya Semara
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.5283Kata Kunci:
Teater Wayang, Satya Semara, Perspektif Rahwana, Stigma Ramadewa, harmoni manusia, Manusia dan alamAbstrak
Teater Wayang inofatip “Satya Semara” adalah sebuah karya seni pertunjukan yang menggambarkan refleksi mendalam tentang kehidupan melalui perspektif Ramadewa. Pertunjukan ini mengeksplorasi berbagai persoalan sosial, termasuk stigma negatif termasuk ke rahwana yang sering kali tercermin dalam budaya masyarakat, dengan pendekatan artistik yang memadukan narasi, visual, dan teknik teater. Proses penciptaan karya ini merujuk pada metode empat tahap yang dikembangkan oleh I Nyoman Sedana, yaitu Pandulame , yang terinspirasi dari fenomena masa sekarang dan stigma budaya;Sarassamaya, melalui eksplorasi literatur, epik Bali, dan seni visual; ; Adicita adirasa, dengan merancang konsep teater yang menggabungkan elemen teater manusia, animasi, dan visual minimalis;Gunagina Gunamanta, yang mencakup eksekusi naskah, latihan, serta pembuatan ilustrasi; dan, yakni penyajian pementasan dengan integrasi elemen artistik secara menyeluruh. Melalui alur cerita yang kuat, karakter yang mendalam, dan elemen visual yang inovatif, Satya Semara menciptakan pengalaman teater yang memikat secara emosional dan reflektif. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengundang penonton untuk merenungkan makna loyalitas, perjuangan, serta pentingnya relasi harmonis antara manusia, , dan alam.
Unduhan
Referensi
[1] I. D. K. Wicaksandita, "Signifikansi Narasi-Vokal dan Gerak Yoga dalam Membangun Karakter Tokoh pada Suasana Mistik Adegan Setra Pertunjukan Teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang Karya I Gusti Putu Sudarta," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 12–12, 2023, doi:10.59997/dmr.v3i2.2853.
[2] I. D. K. Wicaksandita, S. N. G. A. Santika, I. D. K. Wicaksana, and I. G. M. D. Putra, "Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kertih melalui Karakter Tokoh Pandawa sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 4, no. 1, pp. 63–80, 2024, doi:10.59997/dmr.v4i1.3744.
[3] I. D. K. Wicaksandita, S. Hendra, S. Saptono, I. W. Sutirtha, and I. D. K. Wicaksana, "Trans Memori Imajinasi dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit bagi Masyarakat Hindu di Bali," Jurnal Penelitian Agama Hindu, vol. 9, no. 1, pp. 37–56, 2025, doi:10.37329/jpah.v9i1.3499.
[4] I. B. S. Saitya, "Dharma Negara Kumbhakarna in Kakawin Ramayana," International Conference on Hindu Studies, Universitas Hindu Negeri Gusti Bagus Sugriwa, vol. 1, no. 1, pp. 361–370, 2023.
[5] I. D. K. Wicaksana, Pakem/Teks Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Wayang Kulit Parwa and Ramayana. Denpasar: Penerbit Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2005.
[6] I. P. G. Suryanata and N. K. S. Marhaeni, "Peran Sastra Bali dalam Perwujudan Nilai Budaya pada Cerita Pewayangan," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 16–24, 2023, doi:10.59997/dmr.v3i2.2848.
[7] I. D. K. Wicaksana, "Ideologi dan Strategi Seniman Dalang dalam Kreativitas Seni Pertunjukan Wayang," in Seminar Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar, Denpasar, 2017, pp. 1–14.
[8] D. Hendro, S. Saptono, and W. Sriwiyati, "Pembinaan Pelatihan Pakeliran Wayang Jawa Gaya Surakarta bagi Peserta Didik Sanggar Paripurna Desa Bona, Kecamatan Belahbatuh, Kabupaten Gianyar," Abdi Seni, vol. 14, no. 2, pp. 169–180, 2023, doi:10.33153/abdiseni.v14i2.5496.
[9] I. N. Sedana, Teori dan Metode Kreativitas Seni Berbasis Tradisi: Kreativitas Sanggit/Kawi Dalang. Denpasar: Program Studi Seni Pedalangan, 2021.
[10] I. M. Marajaya, Buku Ajar Estetika Pedalangan. Denpasar: Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar, 2015.
[11] A. A. M. Djelantik, Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2004.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Wira Adi, I Nyoman Sedana, I Bagus Wijna Bratanatya

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.