PEWARISAN POLA PEWARISAN PEDALANGAN GAYA I NYOMAN RAJEG
PEDALANGAN
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.6399Kata Kunci:
: pewarisan pedalangan, gaya dalang, regenerasi, sanggit, I Nyoman RajegAbstrak
Pewarisan seni pedalangan di Bali tidak berlangsung sebagai proses linier yang semata-mata ditentukan oleh hubungan genealogis, melainkan sebagai medan dialektika antara tradisi, pengalaman sosial, dan strategi adaptasi kreatif. Artikel ini bertujuan mengkaji pola pewarisan pedalangan gaya I Nyoman Rajeg di Desa Tunjuk, Tabanan, dengan menempatkannya sebagai sistem transmisi budaya yang hidup dan dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi pertunjukan, wawancara mendalam dengan dalang pewaris, serta analisis komparatif terhadap unsur sanggit dan garap pedalangan lintas generasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pewarisan gaya I Nyoman Rajeg tidak berlangsung secara seragam, melainkan melalui beragam jalur pedagogis, seperti pembelajaran berbasis pengamatan, pengalaman menjadi tukang gender, hingga pewarisan langsung. Perbedaan metode tersebut berimplikasi pada terbentuknya variasi sanggit, struktur dramatik, dan strategi penggarapan yang khas pada setiap generasi penerus. Dengan demikian, pewarisan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pelestarian, tetapi juga sebagai ruang negosiasi kreatif yang memungkinkan terjadinya transformasi estetik tanpa memutus kontinuitas tradisi. Artikel ini menegaskan bahwa regenerasi dalang merupakan proses kultural yang bersifat dialektis, di mana tradisi tidak diwariskan secara statis, melainkan direkonstruksi sesuai konteks sosial dan artistik zamannya.
Unduhan
Referensi
[1] Wicaksandita IDK, Wicaksana IDK. “Siva Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang.” Panggung: Jurnal Seni Budaya. 2025;35(3):419-441. doi:10.26742/panggung.v35i3.2693
[2] Wicaksandita IDK, Santika SNGA, Wicaksana IDK, Putra IGMD. “Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul.” Jurnal Damar Pedalangan. 2024;4(1):63-80. doi:10.59997/dmr.v4i1.3744
[3] Seramasara IGN. “Keberadaan Wayang Kulit Bali Sebagai Dinamika Budaya di Era Modernisasi.” Wayang: Jurnal Ilmiah Seni Pewayangan. 2005;4(1):1-11.
[4] Wicaksandita IDK, Santosa H, Sariada IK. “Konsep Dasa Paramartha pada Karakterisasi Tokoh Aji Dharma dalam Pertunjukan Wayang Tantri oleh I Wayan Wija.” Dance and Theatre Review. 2020;3(1):1-11. doi:10.24821/dtr.v3i1.4415
[5] Widnyana IK, Dwiyani NK, Widyarto R, Wicaksana IDK. “Rekasedana, Diatmika, and Widyaguneng Ringgit: Local Wisdom in Contemporary Learning as a Wimba Panititala of Balinese Puppetry.” In: Bali Global Art and Design Symposium. Denpasar: Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali; 2025. p.148-160.
[6] Wicaksana IDK. “Wayang Layar Lebar: Peluang dan Tantangannya di Era Revolusi Industri 4.0.” In: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan Nusantara. 2018. p.84-90.
[7] Marajaya IM. “Pertunjukan Wayang Kulit Bali dari Ritual ke Komersialisasi.” Kalangwan: Jurnal Seni Pertunjukan. 2019;5:21-28.
[8] Wicaksandita IDK, Hendra S, Saptono, Sutirtha IW, Wicaksana IDK. “Trans Memori Imajinasi dalam Pewarisan Nilai Monumental Pertunjukan Wayang Kulit bagi Masyarakat Hindu di Bali.” Jurnal Penelitian Agama Hindu. 2025;9(1):37-56. doi:10.37329/jpah.v9i1.3499
[9] Billah MA, Lahpan NYK, Hidayana IS. “Sistem Pewarisan Budaya pada Kesenian Longser Grup Pancawarna di Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung.” Jurnal Budaya Etnika. 2019;3(2):171-196. doi:10.26742/be.v3i2.1122
[10] Elvandari E. “Sistem Pewarisan Sebagai Upaya Pelestarian Seni Tradisi.” GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik. 2020;3(1):93-104. doi:10.26740/geter.v3n1.p93-104
[11] Wicaksana IDK. Implementasi Estetika Hindu Dharma Pawayangan oleh Dalang Wayang Kulit di Bali [Disertasi]. Denpasar: Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar; 2018.
[12] Jazuli M. “Model Pewarisan Kompetensi Dalang.” HARMONIA: Journal of Arts Research and Education. 2011;11(1):68-82. doi:10.15294/harmonia.v11i1.2072
[13] deBoer FE, Rajeg IN. “The Dimba and Dimbi of I Nyoman Rajeg: A Balinese Shadow Play.” Asian Theatre Journal. 1987;4(1):76. doi:10.2307/1124437
[14] deBoer F. “Pak Rajeg’s Life in Art.” Drama Review. 1979;23(2):57-62. doi:10.2307/1145215
[15] Nugroho S. Teori Sanggit dan Garap dalam Paradigma Penciptaan dan Pengkajian Karya Pedalangan. Surakarta: ISI Press Surakarta; 2018.
[16] Dhari YW. “Pewarisan Keahlian Mendalang pada Keluarga Dalang Wayang Golek Abah Sunarya.” Umbara. 2019;4(2):130-140. doi:10.24198/umbara.v4i2.23697
[17] Groenendael VMC. Dalang di Balik Wayang. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti; 1987.
[18] Schechner R. Performance Studies: An Introduction. 4th ed. London: Routledge Taylor and Francis Group; 2020.
[19] Rochmat N. “Pewarisan Tari Topeng Gaya Dermayon: Studi Kasus Gaya Rasinah.” Resital. 2013;14(1). doi:10.24821/resital.v14i1.393
[20] Sedana IN. Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre [Disertasi]. Athens: University of Georgia; 2002.
[21] Supariadi, Warto. “Regenerasi Seniman Reog Ponorogo untuk Mendukung Revitalisasi Seni Pertunjukan Tradisional dan Menunjang Pembangunan Industri Kreatif.” Cakra Wisata: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 2015;16(1):13-22.
[22] Supir IK, Pageh IM. “Marjinalisasi Seni Prasi: Genealogi Seni Lukis Wayang Bali di Daun Lontar.” Jurnal Humanitas. 2025;11(3):441-454. doi:10.29408/jhm.v11i3.28878
[23] Toyibah LH, Permanasari AT, Hadiyatno H. “Pola Pewarisan Tari Cokek Sipatmo di Kampung Wisata Budaya Tehyan Kota Tangerang.” Gesture. 2024;13(1):1-13. doi:10.24114/gjst.v13i1.55518
[24] Suarmini NW, Rai NGM, Marsudi M. “Karakter Anak dalam Keluarga sebagai Ketahanan Sosial Budaya Bangsa.” JSH. 2016;9(1):78. doi:10.12962/j24433527.v9i1.1280
[25] Feldman MW, Cavalli-Sforza LL. “Cultural and Biological Evolutionary Processes, Selection for a Trait under Complex Transmission.” Theoretical Population Biology. 1976;9(2):238-259. doi:10.1016/0040-5809(76)90047-2
[26] Kusmaya AZ. Perkembangan dan Sistem Pewarisan Kesenian Angklung Badud di Cijulang Pangandaran [Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2014.
[27] Puspita NR, Arbi B. “Pewarisan Kesenian Cengklungan Paguyuban Podho Rukun Temanggung.” Linggau Journal of Elementary School Education. 2021;1(1):22-44. doi:10.55526/ljese.v1i1.53
[28] Cahya. “Fenomena Sistem Pewarisan Budaya pada Tradisi Pedalangan Sunda dalam Bentuk Model Pembelajaran Dalang.” In: Transformasi dan Eksistensi Seni Budaya di Era Digital. Bandung: Sunan Ambu Press; 2024. p.111-124.
[29] Rahmi W. “Analytical Study of Experiential Learning: Experiential Learning Theory in Learning Activities.” Edukasia. 2024;5(2):115-126. doi:10.62775/edukasia.v5i2.1113
[30] Priatna Y. “Melek Informasi Sebagai Kunci Keberhasilan Pelestarian Budaya Lokal.” PUBLIS. 2017;1(2):37. doi:10.24269/pls.v1i2.720
[31] Padnobo HC, Nurnani D. “Sosio Psikologis dalam Implementasi Fungsi Seorang Dalang.” Lakon: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Wayang. 2024;21(2):129-135.
[32] Wicaksana IDK. Eksistensi Dalang Wanita di Bali: Kendala dan Prospeknya. Bandung; 1999.
[33] Cavalli-Sforza LL. Genes, Peoples, and Languages. New York: Penguin Group; 2001.
[34] Triwardhani IJ, Mulyani D, Pratama R. “Literasi Budaya Lokal bagi Anak di Desa Jatisura.” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. 2023;7(2):1818-1827. doi:10.31004/obsesi.v7i2.3962
[35] Sumardjo J. Filsafat Seni. Bandung: ITB Press; 2016.
[36] Murgiyanto S. Tradisi dan Inovasi: Beberapa Masalah Tari di Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra; 2004.
[37] Marajaya IM. Wayang Parwa Gaya Bebadungan. Denpasar: Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali; 2025.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 janamajaya jana, Dru Hendro, I Dewa Ketut Wicaksandita

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.