Artikel PENCIPTAAN KARYA SENI TEATER PAKELIRAN “JARATKARU”

PENCIPTAAN KARYA SENI TEATER PAKELIRAN “JARATKARU”

Penulis

  • I Putu Gede Suryanata Institut Seni Indonesia Bali
  • Ni Komang Sekar Marhaeni Institut Seni Indonesia Bali
  • I Gusti Ngurah Gumana Putra Institut Seni Indonesia Bali
  • Ni Luh Ayu Cempaka Dewi Institut Seni Indonesia Bali

DOI:

https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.6504

Kata Kunci:

Teater pakeliran Pedalangan Bali Penciptaan seni Nilai budaya

Abstrak

Artikel ini membahas penciptaan Teater Pakeliran Jaratkaru sebagai luaran karya seni dalam Program Projek Independen ISI Bali Berdampak. Karya ini mengintegrasikan pertunjukan teater dan tradisi wayang Bali dengan menjadikan warung (penggak) sebagai bingkai naratif untuk merefleksikan dinamika sosial masyarakat Bali kontemporer. Tujuan penciptaan karya ini adalah menafsir ulang kisah klasik Adi Parwa agar relevan dengan isu-isu kekinian, khususnya terkait sistem patriarki, keturunan, dan pendidikan sepanjang hayat. Proses penciptaan dilakukan dengan metode Panca Stiti Ngawi Sani yang meliputi ngawirasa, ngewacak, ngarencana, ngawangun, dan ngebah. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa perpaduan teater dan pakeliran mampu menghadirkan narasi klasik secara kontekstual, komunikatif, dan reflektif tanpa menghilangkan nilai estetika tradisional. Karya ini juga memuat nilai budaya Bali, seperti konsep pewarisan patriarkal dan ajaran Hindu Catur Asrama sebagai pendidikan sepanjang hayat. Selain itu, penciptaan Teater Pakeliran Jaratkaru diproyeksikan memberikan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi, antara lain melalui dialog lintas generasi, penguatan kesadaran ekologis berbasis Tri Hita Karana, serta kontribusi terhadap keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian berbasis praktik penciptaan seni memiliki potensi besar sebagai media refleksi budaya dan keterlibatan sosial di masa mendatang.

 

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Referensi

[1] Tim Filsafat Wayang, Filsafat Wayang Sistematis. Jakarta: Sekretariat Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), 2016.

[2] I. D. K. Wicaksandita and I. D. K. Wicaksana, "Siva Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang," Panggung: Jurnal Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 419–441, 2025, doi:10.26742/panggung.v35i3.2693.

[3] I. G. N. Seramasara, "Wayang sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia dalam Praktek Budaya dan Agama di Bali," MJSB, vol. 34, no. 1, pp. 80–86, 2019, doi:10.31091/mudra.v34i1.640.

[4] I. G. M. D. Putra, "Wayang Kulit Bali sebagai Medium Pendidikan Budaya dan Ekspresi Seni," in Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya. Denpasar: Program Studi Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, 2025, pp. 24–34. [Online]. Available: https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/5881

[5] I. D. K. Wicaksana, "Wayang Layar Lebar: Peluang dan Tantangannya di Era Revolusi Industri 4.0," in Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan Nusantara: Peluang dan Tantangannya Memasuki Era Revolusi Industri 4.0, pp. 84–90, 2018.

[6] I. D. K. Wicaksandita, "Signifikansi Narasi-Vokal dan Gerak Yoga dalam Membangun Karakter Tokoh pada Suasana Mistik Adegan Setra Pertunjukan Teater Pakeliran Puyung Bolong Telah Ilang Karya I Gusti Putu Sudarta," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 138–149, 2023, doi:10.59997/dmr.v3i2.2853.

[7] G. Grehenson, "Wayang Ditinggal Generasi Muda," Liputan/Berita Universitas Gadjah Mada, 2013. [Online]. Available: https://ugm.ac.id/id/berita/7928-wayang-ditinggal-generasi-muda/

[8] I. M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Dari Ritual ke Komersialisasi," Kalangwan: Jurnal Seni Pertunjukan, vol. 5, pp. 21–28, 2019.

[9] K. D. Ardhiva, "Perkawinan Nyentana di Bali: Urgensi, Tata Cara, dan Relevansinya di Era Modern," Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, vol. 16, no. 1, pp. 411–420, 2025, doi:10.3783/causa.v2i9.2461.

[10] I. G. A. A. I. Adnyeswari, N. K. L. S. Melani, and A. A. S. C. Mahesuari, "Generasi Muda Bali Merajut Nilai Tri Hita Karana dari Tradisi ke Digital melalui Media Sosial Instagram," in Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar (PILAR) 2025. Denpasar: Universitas Mahasaraswati Denpasar, pp. 1–10. [Online]. Available: https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/pilar/article/view/11362

[11] L. G. Sukardiasih, I. N. W. Kusuma, and E. F. Hutasoit, "No Pregnancy, No Marriage: Unveiling the Ideology Behind the Discourse of 'Sing Beling Sing Nganten' in Balinese Marriage Culture," JKB, vol. 15, no. 3, pp. 1134–1158, 2025, doi:10.24843/JKB.2025.v15.i03.p09.

[12] L. C. Lintang and R. P. Wicaksono, "Perkawinan di Bawah Umur dalam Hukum Adat Bali Ditinjau dari UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak," Jolsic: Journal of Law, Society, and Islamic Civilization, vol. 3, no. 2, pp. 37–56, 2015, doi:10.20961/jolsic.v3i2.50354.

[13] D. Tania R., I. Qurotun N., A. Audia P., C. Y. Ester D., and S. Milan, "Fenomena Childfree di Era Kontemporer Berdasarkan Perspektif Sosiologi," Regalia: Jurnal Gender dan Anak, vol. 2, no. 1, pp. 61–71, 2023.

[14] I. D. Rasnadipoetra, M. N. A. Abdullah, and M. R. R. Mujayapura, "Childfree dalam Perspektif Mahasiswa Gen Z: Analisis Teori Pilihan Rasional," JIL Pend CB, vol. 12, no. 2, pp. 498–507, 2025, doi:10.38048/jipcb.v12i2.5394.

[15] W. Sancaya, T. Istri P. Hadiyani, and W. Suteja, trans., Peparikan Mahabharata. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1982. [Online]. Available: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/26740/1/PEPARIKAN%20MAHABHARATA.pdf

[16] F. Saptodewo, "Perancangan Bentuk Tokoh Wayang Tetuka Saat Balita," Jurnal Desain, vol. 3, no. 1, pp. 21–26, 2015, doi:10.30998/jurnaldesain.v3i01.588.

[17] D. Haerudin and F. Helmanto, "Reinterpretasi dalam Pertunjukan Teater Lenong Betawi," Panggung: Jurnal Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 460–470, 2025, doi:10.26742/panggung.v35i3.3785.

[18] N. K. D. Yulianti and N. K. S. Marhaeni, "Analisis Nilai Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk dalam Lakon 'Tidak Cukup Hanya Cinta'," Panggung, vol. 31, no. 2, pp. 239–249, 2021, doi:10.26742/panggung.v31i2.1593.

[19] I. P. Ardiyasa, I. D. K. Wicaksandita, and S. N. G. A. Santika, "Struktur Dramatik Pertunjukan Wayang Parwa Lakon Erawan Rabi oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 2, no. 2, pp. 55–70, 2022, doi:10.59997/dmr.v2i2.1867.

[20] S. N. G. A. Santika, I. M. Marajaya, and I. K. Kodi, Teater Pakeliran "Sang Anom". Denpasar, 2017. [Online]. Available: https://repo.isi-dps.ac.id/2591/

[21] I. N. Y. Segara, "Balinese Hindu Women," in Proceedings of the 1st Annual International Conference on Social Sciences and Humanities (AICOSH 2019). Yogyakarta, Indonesia: Atlantis Press, 2019, doi:10.2991/aicosh-19.2019.38.

[22] I. N. Medera, I. B. U. Naryana, I. N. Sukarta, and K. Paramartha, Terjemahan dan Kajian Nilai Astadasaparwa. Denpasar: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986. [Online]. Available: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27699/1/TERJEMAHAN%20DAN%20KAJIAN%20NILAI%20ASTADASAPARWA.pdf

[23] I. D. K. Wicaksana, "Astadasaparwa dan Kakawin Bharatayuddha: Sebagai Sumber Lakon Wayang Kulit Purwa di Bali," Wayang: Jurnal Ilmiah Seni Pewayangan, vol. 3, no. 1, 2004. [Online]. Available: https://repo.isi-dps.ac.id/427/1/1._I_Dewa_Ketut_Wicaksana.pdf

[24] I. N. D. Astika, I. G. N. Jayanti, and B. Denpasar, "Bentuk Cerita Jaratkaru dalam Tradisi Mesatwa pada Kehidupan Masyarakat Bali," Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, vol. 17, no. 1, pp. 24–43, 2010.

[25] I. K. Suteja, Catur Asrama: Pendakian Spiritual Masyarakat Bali dalam Sebuah Karya Seni Tari. Surabaya: Penerbit Paramita, 2018.

[26] I. W. Dibia, Panca Sthiti Ngawi Sani: Metodologi Penciptaan Seni. Denpasar: Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar, 2020.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-20

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Artikel PENCIPTAAN KARYA SENI TEATER PAKELIRAN “JARATKARU”: PENCIPTAAN KARYA SENI TEATER PAKELIRAN “JARATKARU”. (2026). JURNAL DAMAR PEDALANGAN, 6(1), 45-55. https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.6504