Pakeliran Wayang Gambuh "Geseng Alas"
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.6621Kata Kunci:
wayang gambuh, puppetry innovation, Balinese pakeliran, cultural revitalization, performance aestheticsAbstrak
Pakeliran Wayang Gambuh yang berjudul “Geseng Alas” merupakan bentuk inovasi pertunjukan wayang yang dilatarbelakangi oleh menurunnya minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang akibat perkembangan hiburan modern, sehingga perlu adanya revitalisasi agar dapat menghindupkan kembali daya tarik penonton terhadap pertunjukan wayang dengan tetap mempertahankan nilai estetika dan filosofisnya. Proses penciptaan karya ini meliputi tahap konseptualisasi, perancangan naskah, perencanaan produksi, hingga latihan dan evaluasi. Penciptaan karya wayang gambuh ini berkolaborasi dengan Sanggar Seni Kakul Mas yang masih memiliki tradisi kuat dalam seni klasik Bali, terutama gambuh dan wayang. Karya pertunjukan Geseng Alas ini menceritakan tentang perjalanan Panji dalam mencari Putri Kediri hingga terjadi peristiwa perang dalam hutan Terate Bang yang sedang terbakar. Pertunjukan ini menonjolkan perpaduan pertunjukan wayang dengan tari gambuh dan tata cahaya yang mendukung dramatik pertunjukan. Hasil penciptaan ini menunjukkan bahwa inovasi dalam penggabungan dua bentuk seni klasik ini tidak hanya memperkaya estetika pertunjukan, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam revitalisasi seni pedalangan di era modern saat ini. Melalui karya ini, dapat ditegaskan bahwa kolaborasi kreatif antara tradisi dan inovasi mampu memperluas apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional Bali.
Kata Kunci: Wayang Gambuh, Geseng Alas, Penciptaan Karya Seni.
Unduhan
Referensi
[1] I. D. K. Wicaksandita and I. D. K. Wicaksana, "Siva Nataraja: Konsep Estetika Hindu dalam Seni Pertunjukan Wayang," Panggung: Jurnal Seni Budaya, vol. 35, no. 3, pp. 419–441, 2025, doi:10.26742/panggung.v35i3.2693.
[2] I. D. K. Wicaksana and I. D. K. Wicaksandita, "Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali," JPAH, vol. 7, no. 1, pp. 1–17, 2023, doi:10.37329/jpah.v7i1.2126.
[3] I. D. K. Wicaksana, I. D. K. Wicaksandita, H. B. Prasetya, and H. I. R. Hinzler, "Transformative Thanatology and Mesatya Politics: Reconstructing Kumbakarna's Heroism in Contemporary Balinese Shadow Puppet Theatre," JKB, vol. 15, no. 3, pp. 1069–1109, 2025, doi:10.24843/JKB.2025.v15.i03.p07.
[4] I. M. Bandem, "Mengembangkan Lingkungan Sosial yang Mendukung Wayang," Mudra: Jurnal Seni Budaya, vol. 2, no. 2, pp. 31–50, 1994.
[5] I. M. Bandem, "Seni Pawayangan Bali Dewasa Ini," in Seminar Dosen Pedalangan dan Mahasiswa Prodi. Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar, 2004.
[6] I. G. N. Seramasara, "Wayang sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia dalam Praktek Budaya dan Agama di Bali," MJSB, vol. 34, no. 1, pp. 80–86, 2019, doi:10.31091/mudra.v34i1.640.
[7] I. M. Marajaya and I. B. G. S. Peradantha, "The Impact of Technology on the Development of Balinese Shadow Puppetry in the Global Era," BBWP, vol. 4, pp. 271–283, 2024, doi:10.31091/bbwp.v4i1.589.
[8] I. M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Dari Ritual ke Komersialisasi," Kalangwan: Jurnal Seni Pertunjukan, vol. 5, pp. 21–28, 2019.
[9] I. D. K. Wicaksana, "Wayang Layar Lebar: Peluang dan Tantangannya di Era Revolusi Industri 4.0," in Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan Nusantara: Peluang dan Tantangannya Memasuki Era Revolusi Industri 4.0, pp. 84–90, 2018.
[10] S. Mulyono, Wayang: Asal Usul, Filsafat dan Masa Depannya. Jakarta: PT Gunung Agung, 1978.
[11] I. K. Widnyana, N. K. S. Marhaeni, I. G. P. Sudarta, N. K. Dwiyani, and R. Widyarto, "Innovation of Wayang Performance Through Cinema and Theater Techniques as New Media," L.Int.Jou.APA, vol. 7, no. 1, pp. 10–15, 2024, doi:10.31091/lekesan.v7i1.2539.
[12] N. M. Ruastiti, I. K. Sudirga, and I. G. Yudarta, "Model of Innovative Wayang Wong for Millennial Generation to Meet 4.0 Industrial Revolution Era in Bali," Journal of Environmental Treatment Techniques, vol. 8, no. 3, pp. 999–1004, 2020.
[13] I. W. Dibia, Geliat Seni Pertunjukan Bali. Denpasar: Buku Arti, 2012.
[14] I. M. Sudana, "Melacak Perkembangan Wayang Kulit Bali sebagai Pakeliran Inovatif," Jurnal Paraguna, vol. 7, no. 1, pp. 14–24, 2022, doi:10.26742/jp.v7i1.1850.
[15] G. P. A. B. Gunawan, I. M. Marajaya, and I. G. P. Sudarta, "Penciptaan Karya Teater Bayang Raga Nusantara 'Doomed Romance'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 1, pp. 1–8, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i1.4825.
[16] I. B. N. A. Naya, I. K. Widnyana, and I. D. K. Wicaksana, "Produksi Karya Teater Boneka 'Poppy-Utopia'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 1, pp. 9–19, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i1.4863.
[17] I. M. A. A. Wiguna, I. K. Sudiana, and I. D. K. Wicaksandita, "Produksi Karya Teater Pakeliran 'Bibi Anu'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 1, pp. 40–51, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i1.4886.
[18] I. M. A. Pranajaya, I. K. Widnyana, I. D. K. Wicaksana, and H. G. Akbar, "Penciptaan Karya Teater Monolog Wayang Upih 'Moved Motion'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 2, pp. 146–153, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i2.5058.
[19] I. G. M. D. Putra, "Problematika Teater Pakeliran sebagai Konsep Garap dalam Seni Pewayangan," Jurnal Seni Budaya, vol. 31, no. 3, pp. 385–400, 2021, doi:10.26742/panggung.v31i3.1714.
[20] A. A. P. S. Darmawibawa, I. K. Kodi, and I. B. W. Bratanatyam, "Penciptaan Karya Seni Pertunjukan Wayang Prembon 'Pugpug Ki Balian Batur'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 2, pp. 90–98, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i2.4917.
[21] I. G. N. K. Mahendra, I. G. N. Gumana Putra, and I. K. Sudiana, "Penciptaan Karya Seni Pakeliran Suluh Malat 'Kelana Carang Naga Puspa'," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 5, no. 2, pp. 99–107, 2025, doi:10.59997/dmr.v5i2.4920.
[22] I. M. Bandem and F. E. deBoer, Kaja dan Kelod: Tarian Bali dalam Transisi. Yogyakarta: Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2004.
[23] I. G. A. Sugiartha et al., Sejarah Seni Pertunjukan Kabupaten Gianyar. Denpasar: Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar, 2019.
[24] S. C. Budiyono, "Cerita Panji dalam Perspektif Sejarah," Jurnal Budaya Nusantara, vol. 1, no. 2, pp. 141–146, 2018, doi:10.36456/JBN.vol1.no2.1575.
[25] R. Schechner, Performance Studies: An Introduction, 4th ed. London: Routledge Taylor & Francis Group, 2020.
[26] I. G. A. Srinatih, "Penciptaan Seni Pertunjukan Berbasis Penelitian," Jurnal Seni Budaya, vol. 28, no. 1, 2018, doi:10.26742/panggung.v28i1.499.
[27] L. Candy and E. Edmonds, "Practice-Based Research in the Creative Arts: Foundations and Futures from the Front Line," Leonardo, vol. 51, no. 1, pp. 63–69, 2018, doi:10.1162/LEON_a_01471.
[28] S. Clift, "Creative Arts as a Public Health Resource: Moving from Practice-Based Research to Evidence-Based Practice," Perspectives in Public Health, vol. 132, no. 3, pp. 120–127, 2012, doi:10.1177/1757913912442269.
[29] A. A. M. Djelantik, Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2004.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 wayan kembalyana swara, I Made Marajaya, Sang Nyoman Gede Adhi Santika

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.