PENDIDIKAN DALANG BALI UTARA: STUDI KONSEPTUAL BISA DAN DADI DALAM PRAKTEK BELAJAR WAYANG BERBASIS LONTAR DHARMA PAWAYANGAN
DOI:
https://doi.org/10.59997/dmr.v6i1.6864Kata Kunci:
Pendidikan Dalang Dharma PawayanganAbstrak
Penelitian ini mengkaji disonansi yang kian melebar dalam pendidikan pedalangan di Bali Utara, khususnya kesenjangan antara kemahiran teknis ('bisa') dan legitimasi spiritual-etis ('dadi'). Dalang, yang secara tradisi merupakan figur sakral yang dipedomani oleh Lontar Dharma Pawayangan, menghadapi krisis pedagogis seiring tergesernya sistem holistik 'aguron-guron' (guru-murid) oleh institusi formal yang memprioritaskan keterampilan teknis. Penelitian kualitatif ini, dengan metode etnografi dan analisis tekstual, menemukan bahwa pergeseran ini mengakibatkan persepsi menurunnya 'taksu' (kharisma spiritual) dan implementasi prinsip teo-estetika Dharma Pawayangan yang belum optimal di kalangan dalang muda. Untuk mengatasi fragmentasi ini, penelitian ini mengajukan 'Model Integratif Tri-Pola' untuk pendidikan dalang. Model ini menyintesiskan kekuatan dari tiga pilar: Akademik (institusi formal), Komunitas (sanggar), dan Spiritual (empu/master). Dengan mengintegrasikan filsafat pembelajaran pengalaman John Dewey dan kerangka AGIL Talcott Parsons untuk keberlanjutan sistemik, model ini bertujuan untuk menghasilkan 'dalang paripurna' yang secara holistik mewujudkan 'bisa' dan 'dadi', serta menjamin vitalitas dan kesakralan tradisi.
Unduhan
Referensi
[1] I. D. K. Wicaksana, "Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali," Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, vol. 6, no. 1, 2018, doi:10.31091/sw.v6i1.355.
[2] I. D. K. Wicaksana and I. D. K. Wicaksandita, "Alih Aksara dan Analisis Ragam Bahasa Lontar Dharma Pawayangan Koleksi Dalang I Made Sidja," Jurnal Penelitian Agama Hindu, pp. 197–212, 2022.
[3] K. C. Gita, "Teks Dharma Pewayangan sebagai Dasar Menjadi Seorang Dalang," Pangkaja: Jurnal Agama Hindu, vol. 26, no. 2, pp. 160–166, 2023.
[4] I. N. T. Jaya, I. K. Donder, and N. K. Sutriyanti, "Ritual Dalang dalam Dharma Pewayangan di Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar," Kamaya: Jurnal Ilmu Agama, vol. 1, no. 3, pp. 233–239, 2018.
[5] H. Amir, Nilai-Nilai Etis dalam Wayang, 1st ed. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991.
[6] I. N. Duija and N. M. A. S. P. Paramitha, "Dharma Pawayangan: Transliteration, Translation, and Cultural Values Analysis," Jurnal Penelitian Agama Hindu, vol. 6, no. 1, pp. 1–12, 2022.
[7] I. W. Dibia, Taksu: Dalam Seni dan Kehidupan Bali. Denpasar, 2012.
[8] J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 5th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, 2018.
[9] I. M. Marajaya, "Pertunjukan Wayang Kulit Bali: Dari Ritual ke Komersialisasi," Kalangwan: Jurnal Seni Pertunjukan, vol. 5, no. 1, pp. 21–28, 2019.
[10] I. M. A. Yasa, "Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Pagelaran Wayang Kulit pada Tumpek Wayang," Padma Sari: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 39–50, 2022.
[11] J. Dewey, "Experience and Education," in The Educational Forum. Taylor & Francis, 1986, pp. 241–252.
[12] T. Parsons, "The Present Status of 'Structural-Functional' Theory in Sociology," in The Idea of Social Structure. Routledge, 2017, pp. 67–84.
[13] I. K. Rota, Dharma Pawayangan. Denpasar, 1986.
[14] I. P. G. Suryanata and N. K. S. Marhaeni, "Peran Sastra Bali dalam Perwujudan Nilai Budaya pada Cerita Pewayangan," Jurnal Damar Pedalangan, vol. 3, no. 2, pp. 88–96, 2023.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Erman Risky Dewa Suprapta, Made Reland Udayana Tangkas, I Putu Ardiyasa

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.