SENI LUKIS DEWA PUTU MOKOH PASCA RUDOLF BONNET
DOI:
https://doi.org/10.59997/citakara.v1i01.129Kata Kunci:
Mokoh, Lukisan, Seksualitas, Pasca BonnetAbstrak
Kehadiran dua pelukis Barat yakni Walter Spies dan Rudolf Bonnet membuat antusias perkembangan seni lukis sangat tinggi sehingga oleh Cokorda Gede Sukawati membangun perkumpulan seniman yang dipandang perlu untuk menjamin kesejahteraan para senimannya, maka berdirilah Pita Maha (1932) berarti jiwa yang agung atau kreativitas. Dewa Putu Mokoh adalah satu-satunya seniman muda saat itu yang berani keluar dari tema wayang. Mokoh tidak lagi menampilkan tema-tema wayang sebagaimana yang dilukis oleh para seniman masa itu. Selain itu, keberanian mengangkat kehidupan seks melalui pengembangan teknik dan pendekatan tema dalam narasi humor. Faktor-faktor yang mempengaruhi karya Mokoh yaitu alam, sosial, budaya, religi, pendidikan dan pariwisata. Di hadapan semua
pengaruh berinteraksi dan menyatu serta tumbuh menjadi cinta dalam perkembangannya yang didukung oleh ketrampilan dan profesional. Selain itu, karya Mokoh berfungsi sebagai karya estetika, pembaharuan, pendidikan, ekonomi dan penghias ruang, dalam wujudnya berkaitan dengan fungsi estetika. Dampak lukisan Mokoh yang menyumbangkan ide-ide baru, ekonomi kreatif yaitu tumbuhnya sektor kehidupan bisnis, melahirkan seniman-seniman baru yang berani melahirkan karya seni yang unik, menarik dan mempunyai ciri atau ciri khas. Selain itu, lukisan
Mokoh memiliki makna yang berbeda yaitu makna simbolik, relegi makna, makna pembaharuan, makna budaya, dan refleksi. Lukisan Dewa Putu Mokoh meskipun mengungkapkan objek realitas, yang dilihat secara langsung, tetapi ada pesan dan makna tertentu yang ingin disampaikan. Memahami lukisan simbolik Dewa Putu Mokoh tersirat melalui realisasi seni lukis yaitu makna simbolik.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 CITA KARA : JURNAL PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI MURNI

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.


