Stadium dan Punctum dalam The Impact of Nickel Mining on Halmahera Island Karya Mas Agung Wilis Yudha Baskoro: Kajian Semiotika
DOI:
https://doi.org/10.59997/rjf.v6i1.5736Kata Kunci:
fotografi dokumenter, semiotika Barthes, stadium, punctum, industri nikel, kritik sosial, representasi visualAbstrak
Pertumbuhan industri nikel di Indonesia sebagai bagian dari transisi energi hijau membawa konsekuensi sosial dan ekologis yang kompleks, khususnya bagi komunitas lokal dan pekerja tambang. Di tengah narasi pembangunan berkelanjutan, isu-isu ketimpangan, eksploitasi tenaga kerja, dan kerusakan lingkungan sering kali terpinggirkan. Penelitian ini mengkaji upaya fotografi dokumenter yang dapat berfungsi sebagai medium kritik sosial, dengan fokus pada karya The Impact of Nickel Mining on Halmahera Island oleh Mas Agung Wilis Yudha Baskoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis visual semiotik berdasarkan teori Roland Barthes, khususnya konsep stadium dan punctum. Teori representasi Stuart Hall juga digunakan untuk menelusuri makna. Analisis menunjukkan bahwa karya Baskoro merepresentasikan wajah tersembunyi dari industri ekstraktif dari kelelahan para buruh tambang hingga kerusakan ekologis yang tidak tertampung dalam narasi pembangunan resmi. Elemen stadium memetakan konteks struktural dan politik yang melingkupi kehidupan pekerja tambang, sedangkan punctum seperti tatapan kosong, luka, dan debu di wajah menembus kesadaran penonton secara afektif. Visual tidak lagi sekadar representasi, tetapi menjadi alat simbolik untuk membongkar relasi kuasa dan membangkitkan empati serta kegelisahan moral terhadap eksploitasi yang terjadi. Penelitian ini menunjukkan bahwa fotografi dokumenter dapat menjadi bentuk intervensi kultural yang kritis dan efektif dalam mengangkat isu ketidakadilan sosial dan ekologis.
Unduhan
Referensi
Ajidarma, S. G. (2003). Kisah mata: fotografi antara dua subyek: perbincangan tentang ada. Galangpress Group.
Amir, D. (2018). Studium and punctum in psychoanalytic writing: Reading case studies through Roland Barthes. The Psychoanalytic Review, 105(1), 51-65.
Badmington, N. (2012). Punctum Saliens: Barthes, mourning, film, photography. Paragraph, 35(3), 303-319.
Barthes, R. (2012). From Camera Lucida. In Theatre and performance design (pp. 43-50). Routledge.
Brook, D. (1982). Books: Barthes on the Photograph-Camera Lucida. Art Monthly (Archive: 1976-2005), (55), 24.
Fried, M. (2005). Barthes’s punctum. Critical Inquiry, 31(3), 539-574.
Handono, R. P., & Wijaya, T. (2023). ELISITASI FOTO JURNALISTIK JENAZAH COVID-19. specta, 7(1), 1-12.
Laudya, P. G. (2025). Analisis Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam menerima Investasi Nikel dari China pada Tahun 2020-2023 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).
Muntaha, S. (2024). Diperdaya Algoritma Mesin Pencari: Kerentanan Mitra Bisnis Ekonomi Berbagi pada Media Daring di Indonesia. Kemitraan Semu dalam Ekonomi Gig di Indonesia, 93-114.
Nufus, H., Sinaga, L. C., & Song, X. (Eds.). (2024). Refleksi Satu Dekade Belt and Road Initiative: Peluang Dan Tantangan Kerja Sama Indonesia-Tiongkok. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Nurdyansa, N., Ismail, I., & Erniwati, E. (2025). SEMIOTIKA FOTOGRAFI BERITA BENCANA ALAM: ANALISIS NARASI VISUAL DI PORTAL BERITA INDONESIA DAN INTERNASIONAL. CORE: Journal of Communication Research, 34-42.
Nurhayati, N., Apriyanto, A., Ahsan, J., & Hidayah, N. (2024). Metodologi Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Setiawan, R., & Bornok, M. B. (2015). Estetika fotografi. Research Report-Humanities and Social Science, 1.
Soedjono, S. (2007). Pot-Pourri Fotografi, Jakarta. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti.
Hall, S. (1997). The spectacle of the other. Representation: Cultural representations and signifying practices, 7, 223-290.
Wibisono, R. B. (2024). Keadilan iklim dan HAM di Indonesia: Mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan. Jurnal Politik Pemerintahan Dharma Praja, 17(2), 95-125.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Febrian Putra, Aninditya Ardhana Riswari, Novia Sisca Haryani, I Putu Adi Putra Wiwana

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.